PROSES
MORFOLOGI
Proses
morfologi adalah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan
bentuk dasarnya. (Prof.Drs.M.Ramlan,2009:51)
Proses morfologis ialah cara pembentukan kata-kata
dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain. (Samsuri, 1987:
190)
Proses Morfologi pada dasarnya adalah proses
pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiks (dalam
proses afiksasi), pengulangan (dalam proses reduplikasi), penggabungan (dalam
proses komposisi), pemendekan (dalam proses akronimisasi), dan pengubahan
status (dalam proses konversi). (Abdul Chaer, 2008: 25)
dalam bahasa
indonesia terdapat tiga proses morfologis yaitu:
·
proses pembumbuhan afiks(afiksasi)
·
proses pengulangan(reduplikasi)
·
proses pemajemukan
Disamping
tiga proses morfologis diatas, dalam bahasa Indonesia sebenarnya masih ada satu
proses lagi yang disebut dengan proses perubaan zero. Proses ini hanya meliputi
sejumlah kata tertentu, yakni kata yang termasuk golongan kata verbal
transitip, seperti : makan, minum, minta, dan mohon, yang semuanya adalah kata
verbal transitif (kata verbal yang dapat diikuti oleh objek dan dapat diubah
menjadi kata verbal pasif). Misalnya:
·
Membeli
=> dibeli
·
Memperbaiki
=> diperbaiki
·
Makan =>
dimakan
·
Minum=>diminum
Ø Poses Pembubuhan Afiks (Imbuhan)
Proses pembubuhan afiks adalah pembubuhan
afiks suatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk
kompleks, untuk membentuk kata. Misalnya pembubuhan afik ber- pada kata jalan
menjadi berjalan. Pada sepeda menjadi bersepeda.
-
Bentuk
tunggal => terdiri dari satu morfem, misalnya : makan, minum.
-
Bentuk kompleks
=> terdiri lebih dari satu morfem : rumah makan, berlari,.
Kata berlari terdiri dari dua morfem yakni morfem [ber-] dan morfem [lari].
Kata berlari terdiri dari dua morfem yakni morfem [ber-] dan morfem [lari].
Satuan yang dilekati afiks atau yang
menjadi dasar pembentukan bagi satuan yang lebih besar disebut bentuk dasar,
dalam contoh di atas kata jalan adalah bentuk dasar dari berjalan, kata sepeda
adalah bentuk dasar dari kata bersepeda
Bentuk afiksasi yang salah!
Tak jarang kita mendengar dipungkiri, atau kata mempesona. Kata-kata
tersebut memiliki intensitas yang cukup tinggi, artinya sering diucapkan. Tapi
apakah kata-kata tersebut sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia? Berikut
sedikit pembahasan:
Fonem /N/
pada morfem meN berubah menjadi fonem /m/ apabila bentuk dasar yang mengikutiya
berawal /p,b,f/.
Misalnya :
Misalnya :
-
meN + pesan
=> memesan
-
meN + pukul
=> memukul
-
meN + potong
=> memotong
-
meN + Pesona
=> memesona
Jadi sudah jelas bahwa kata yang benar adalah memesona, bukan mempesona.
Lalu bagimana dengan kata dipungkiri? Kata dipungkiri adalah bentuk yang salah.
Dalam KBBI tidak ada kata dasar pungkir yang ada adalah mungkir jadi bentuk
yang benar adalah dimungkiri.
Ø Proses Pengulangan (Reduplikasi)
Proses
pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan suatu gramatik, baik seluruhnya
maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan
tersebut disebut kata ulang, sedangkan satuan yang diulang disebut bentuk
dasar. Misalnya kata ulang rumah-rumah dibentuk dari kata dasar rumah, kata
ulang berjalan jalan dibentuk dari kata berjalan kata ulang bolak balik berasal
dari kata balik.
Akan tetapi kita sering terkecoh dengan bentuk yang mirip dengan kata
ulang, tetapi susunguhnya bukanlah kata ulang, jika dilihat dari tinjauan
deskriptif. Misalnya kata-kata berikut: sia-sia, huru-hara, mondar-mandir.
Kata-kata tersebut bukanlah kata ulang, karena sebenarnya tidak ada satuan atau
kata dasar yang diulang. kata sia-sa bukan berasal dari kata dasar sia, karena
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak ada kata dasar sia, begitupun dengan
kata huru-hara, dan kata mondar-mandir.
Ø Proses Pemajemukan
Dalam bahasa Idonesia kerap sekali ditemukan gabungan dua kata yang
membentuk makan baru. Kata yang terjadi dari gabungan dua kata tersebut lazim
disebut dengan kata mejemuk. Rumah sakit, meja makan, kepala batu.
·
Cara
Membedakan Antara Kata Menjemuk Dengan Yang Bukan Kata Mejemuk
Misalnya : kursi malas dengan adik malas. Mana
diantara contoh tersebut yang merupakan kata mejemuk.dilihat dari kategori
pengolongan kata, kata kursi malas dan adik malas terdiri dari kata benda dan
kata sifat. Artinya keduanya mempunyai kemungkinan sebagai klausa dan sebagai
frase.
Jika kursi malas sebagi klausa,
tentu dapat diikuti dengan kata itu, misalnya menjadi *kursi itu malas, kata
malas dapat diikuti dengan kata sangat,tidak agak,
*kursi itu sangat malas,
*kursi itu agak malas. Jelaslah
bahwa semua itu tidak lazim. berbeda halnya dengan adik malas, dapat diperluas menjadi
*adik yang malas, atau adik itu
sangat malas. Jadi jelas kursi malas bukanlah klausa.
Jika kursi malas itu fase, tentu dapat disela dengan kata yang, misalnya
pada contoh tadi; adik malas dapat disisipi kata yang menjadi adik yang malas.
Sedangkan kursi yang malas tidak lazim atau tidak berterima, oleh karena itu
maka kursi malas bukanlah frase melaikan kata majemuk.
AFIKSASI
-
Afiksasi merupakan unsur yang ditempelkan dalam
pembentukan kata dan dalam lingistik afiksasi bukan merupakan pokok kata
melainkan pembentukan pokok kata yang baru. Sehingga para ahli bahasa
merumuskan bahwa, afiks merupakan bentuk terikat yang dapat ditambahkan pada
awal, akhir maupun tengah kata (Richards,
1992).
-
Ahli lain mengatakan, afiks adalah bentuk
terikat yang apabila ditambahkan ke bentuk lain akan mengubah makna
gramatikalnya (Kridalaksan,
1993).
-
Dasar
yang dimaksud pada penjelasan tersebut adalah bentuk apa saja, baik sederhana
maupun kompleks yang dapat diberi afiks apapun (Samsuri,
1988).
sudah dikemukakan pada
Bab III bahwa afiksasi adalah salah satu proses dalam pembentukan kata turunan
baik berkategori verba, berkategori nominal maupun ajektiva. Dalam bab ini akan
dibicarakan pembentukan verba turunan itu, dan dalam bab-bab berikutnya akan
dibicarakan pembentukan nomina dan ajektiva “(Abdul Chaer :Morfologi Bahasa
Indonesia 2008:106)”.
Afiks-Afiks pembentuk verba
adalah:
-
prefiks ber-
-
konfiks dan klofiks ber-an
-
klofiks ber-kan
-
sufiks –kan
-
sufiks –i
-
prefiks per-
-
konfiks per-kan
-
konfiks per-i
-
prefiks me-
-
prefiks di-
-
prefiks ter-
-
prefiks ke-
-
konfiks ke-an
v Verba
Berprefiks
ber-
Bentuk dasar
dalam pembentukan verba dengan prefiks ber- dapat berupa:
a)
Morfem dasar terikat, seperti terdapat pada kata bertempur,
berkelahi, berjuang, bertikai dan berhenti. Bentuk dasarnya yang berupa
morfem dasar terikat: tempur, kelahi, juang, tikai, dan henti.
b)
Morfem dasar bebas, seperti terdapat pada kata berladang,
beternak, bekerja, bernyanyi, dan bergaya. Bentuk dasarnya yang
berupa morfem dasar bebas: ladang, ternak, kerja, nyanyi, dan gaya.
c)
Bentuk turunan berafiks, seperti terdapat pada kata berpakaian
(bentuk dasarnya pakaian), beraturan (bentuk dasarnya aturan),
berkekuatan (bentuk dasarnya kekuatan), berkebangsaan
(bentuk dasarnya kebangsaan), berpenghasilan (bentuk dasarnya penghasilan)
dan berpendapatan (bentuk dasarnya pendapatan). Jadi, di sini
prefiks ber- diimbuhkan pada dasar yang terlebih dahulu sudah diberi
afiks lain. Simak bagan proses pembentukan kata berpakaian berikut:
ber pakai an
d)
Bentuk turunan reduplikasi, seperti terdapat pada kata
berlari (bentuk dasar lari-lari), berkeluh-kesah (bentuk
dasar keluh-kesah) dan berilmu-pengetahuan (bentuk dasar ilmu-pengetahuan).
e)
Bentuk turunan hasil komposisi, seperti terdapat pada
kata berjual beli (bentuk dasar jual beli), bertemu muka
(bentuk dasar temu muka), dan bergunung api (bentuk dasar gunung
api).
Makna
gramatikal verba berprefiks ber- yang dapat dicatat, antara lain yang
menyatakan:
-
mempunyai (dasar) atau ada (dasar)nya.
-
memakai atau menggunakan (dasar).
-
mengendarai atau menumpang/naik (dasar).
-
berisi atau mengandung (dasar).
-
mengeluarkan atau menghasilkan (dasar).
-
mengusahakan atau mengerjakan (dasar).
-
melakukan (dasar).
-
mengalami atau berada dalam keadaan (dasar).
-
menyebut atau menyapa (dasar).
-
kumpulan atau kelompok (dasar).
-
memberi.
v Verba
berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘mempunyai (dasar)’ atau ‘ada
(dasar)nya’
Apabila bentuk dasarnya mempunyai komponen makna (+ benda), (+ umum),
(+milik) dan atau (+ bagian). Perhatikan contoh:
-
berayah ′mempunyai ayah′.
-
bermesin ′ada mesinnya′.
-
berjendela ′ada jendelanya′.
-
berkewajiban ′mempunyai kewajiban′.
-
bertanggung jawab ′mempunyai tanggung jawab′.
Contoh lain:
-
beristri
-
bersaudara
-
berkamar
-
berasas
-
berbagasi.
v verba
berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘memakai’ atau ‘mengenakan’
Apabila
bentuk dasarnya mempunyai komponen makna (+ pakaian) atau (+ perhiasan). Simak
contoh berikut:
-
berkebaya ′memakai kebaya′.
-
berjilbab ′memakai jilbab′.
-
berpita ‘memakai pita’
Contoh lain:
-
berbedak
-
bersepatu karet
-
bersendal jepit
-
berbulu mata
palsu.
-
bertopeng
v Verba
berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ′mengendarai′, ′menumpang′, atau
′naik′
Apabila bentuk
dasarnya memiliki komponen makna (+ kendaraan). Simak cntoh berikut:
- bersepeda
′mengendarai sepeda′.
-
berkuda ′naik kuda′.
-
berbendi’naik bendi’
v Verba
berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ′berisi′ atau ′mengandung′
Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ benda), (+dalaman), (+ kandungan). Simak contoh berikut:
-
beracun ′mengandung racun′.
-
berkuman ′mengandung kuman′
-
berair’berisi air
v Verba
berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ′mengeluarkan atau menghasilkan’
Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ benda), (+ hasil), atau (+ keluar).
Perhatikan contoh:
-
berproduksi ′menghasilkan produksi′.
-
bertelur ′mengeluarkan telur′.
-
berdarah ′mengeluarkan darah′.
-
berair mata ′mengeluarkan air mata′.
-
bernanah ′mengeluarkan nanah′.
v Verba
berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ′mengusahakan′ atau ′mengupayakan′
Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ bidang usaha). Perhatikan contoh:
-
berladang ′mengusahan ladang′.
-
beternak ′mengusahakan ternak′.
-
bersawah′ mengerjakan sawah′.
-
berhuma ′mengerjakan huma′.
-
bercocok tanam ′mengusahakan cocok tanam′.
v Verba
berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ′melakukan kegiatan′
Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ benda) dan (+ kegiatan). Simak
contoh berikut:
-
berdebat ′melakukan debat′,
-
bersenam ′melakukan senam′,
-
berekreasi ′melakukan rekreas′,
-
berdiskusi
′melakukan diskusi′,
-
berolahraga ′melakukan
olahraga′.
v Verba
berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ′mengalami′ atau ′berada dalam
keadaan′.
Apabila bentuk
dasarnya memiliki komponen makna (+ perasaan batin). Simak contoh berikut:
-
bergembira ′dalam keadaan gembira′,
-
berduka cita
′dalam keadaan duka cita′,
-
bersedih ′dalam
keadaan sedih′,
-
bersenang-senang ′dalam keadaan senang-senang′
-
, bermuram durja ′dalam keadaan muram durja′.
v Verba
berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ′menyebut′ atau ′menyapa′.
Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ kerabat) dan (+ sapaan). Simak
contoh berikut:
-
berabang ′memanggil abang′,
-
berkakak
′menyebut kakak′,
-
bertuan ′memanggil
tuan′,
-
beradik
′memanggil adik′,
-
berencik
′menyebut encik.
v Verba
berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ′kumpulan′ atau ′kelompok′
Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ jumlah) atau (+ hitungan). Simak
contoh berikut:
-
berdua ′kumpulan dari dua (orang)′,
-
berlima
′kumpulan dari lima (orang)′,
-
bertiga
′kumpulan dari tiga (orang)′,
-
bertujuh ′kumpulan dari tujuh (orang)′,
-
berempat
′kumpulan dari empat (orang)′.
v Verba
berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ′memberi′
Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ benda) dan (+ berian). Simak contoh
berikut:
-
bersedekah ′memberi sedekah′
-
berderma ′memberi derma′
-
berkhotbah ′memberi khotbah′
-
berceramah ′memberi ceramah′
-
berpetuah
′memberi petuah′.
v Verba
Berkonfiks dan Berklofiks Ber-an
verba
berbentuk ber-an seperti pada kata bermunculan dan berpakaian
memiliki dua macam proses pembentukan. Pertama, yang berupa konfiks,
artinya prefiks ber- dan sufiks –an itu diimbuhkan secara
bersamaan sekaligus pada sebuah bentuk dasar. Kedua, yang berupa klofiks
artinya prefiks ber- dan sufiks –an itu tidak diimbuhkan secara
bersamaan pada sebuah dasar. Dalam hal ini pada bentuk dasar, mula-mula
diimbuhkan sufiks –an baru kemudian diimbuhkan lagi prefiks ber-.
Kalau bentuk bermunculan di atas kita ambil sebagai contoh verba
berkonfiks dan bentuk berpakaian sebagai contoh verba berklofiks, maka
bagan proses pembentukannya adalah sebagai berikut:
pakai an
muncul
–ber –an
ber
Ber-an sebagai konfiks memiliki satu
makna, sedangkan ber-an sebagai klofiks memiliki makna sendiri-sendiri. Jadi,
prefiks ber- memiliki makna sendiri. Verba bermunculan pada contoh di atas
memiliki makna ′banyak yang muncul dengan tidak teratur′ dan makan gramatikal
kata berpakaian adalah ′memakai pakaian′.
Makna
gramatikal verba berkonfiks ber-an adalah:
-
banyak serta tidak teratur
-
saling atau
berbalasan
-
saling berada
di.
v Verba
berkonfiks ber-an yang memiliki makna gramatikal ′banyak serta tidak teratur′
Apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna (+ tindakan), (+ sasaran), dan (+ gerak). Misalnya:
-
berlarian ′banyak yang berlari dan tidak teratur′
-
bermunculan
′banyak yang muncul dan tidak teratur′,
-
berlompatan ′banyak yang lompat dan tidak teratur′.
v Verba
berkonfiks ber-an yang memiliki makna gramatikal ′saling′ atau ′berbalasan′
Apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna (+ tindakan), (+ sasaran), dan (+ gerak). Misalnya:
-
bermusuhan ′saling memusuhi′
-
bertangisan
′saling menangis′
-
bersentuhan
′saling bersentuhan′.
v
Verba berkonfiks ber-an yang memiliki makna gramatikal
′saling berada di′
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ benda), (+ letak), (+
tempat). Misalnya:
-
bersebelahan ′saling berada di sebelah′
-
berseberangan ′saling berada di seberang′
-
berhadapan
′saling berada di hadapan′.
Catatan:
(1) bentuk ber-an pada sebuah verba mungkin bisa berupa
konfiks mungkin juga berupa klofiks, tergantung pada konteks kalimatnya.
Misalnya verba berpotongan dan berpandangan pada kalimat (a) dan
(b) adalah konfiks sedangkan pada kalimat (c) dan (d) adalah klofiks.
(a) - Garis a dan garis b berpotongan pada titik c.
- Kami hanya dapat berpandangan dari
jauh, tak sempat berbicara apa-apa.
(b)
- Gadis berpotongan seperti
gajah bengkak itu tidak mungkin diterima sebagai pegawai.
-
Orang yang berpandangan luas
tentu tidak akan mengkritik sembarangan.
(2)
Hingga saat ini verba berkonfiks atau berklofiks ber-an jumlahnya tidak banyak. Di antara yang tidak banyak itu
terdapat pada verba-verba:
Berpengangan
Bersandaran
Berkenaan
Bermesraan
Berdekatan
Berhadapan
Bersangkutan
Berdampingan
Berlompatan
Bersaingan
Berlumuran
Bermusuhan
Bersentuhan
Berpasangan
|
Berhampiran
Berkasihan
Berjauhan
Berdatangan
Bertentangan
Bersimpangan
Berseliweran
Berlarian
Berloncatan
Berkedudukan
Berkejaran
Berketentuan
Berkeberatan
|
(3) Ada sejumlah verba ber-an yang di dalam pertuturan
(terutama dalam ragam non baku) ditanggalkan prefiks ber-nya antara lain (ber)
ciuman, (ber) pelukan, (ber) tabrakan, (ber) gelimpangan, (ber) senggolan,
(ber) pacaran, (ber) sedekahan, (ber) lebaran, dan (ber) syukuran.
v Verba
Berklofiks Ber-kan
Verba berklofiks ber-kan dibentuk
dengan proses, mula-mula pada bentuk dasar diimbuhkan prefiks ber-, lalu
diimbuhkan pula sufiks –kan. Misalnya mula-mula pada kata dasar senjata
diimbuhkan prefiks ber- menjadi bersenjata, lalu pada kata bersenjata
diimbuhkan pula sufiks –kan sehingga menjadi bersenjatakan.
Simak bagan berikut:
ber
senjata kan
Prefiks ber- dan sufiks –kan
pada verba ber-kan memiliki maknanya masing-masing, di mana prefiks ber-
memiliki makna gramatikal seperti pada subbab 7.1, sedangkan sufiks –kan
memiliki makna gramatikal ′akan′. Perhatikan beberapa contoh berikut:
-
bersenjatakan ′menggunakan senjata akan (clurit) ′.
-
berisikan ′mempunyai isi akan (air) ′.
-
berdasarkan ′menggunakan dasar akan (pancasila) ′.
Verba
berklofiks ber-kan juga tidak banyak. Di antara yang tidak banyak itu adalah
verba:
Bermodalkan
Beristrikan
Bersuamikan
Bertatahkan
Berkalungkan
Bermenantukan
Berdalilkan
Beralaskan
Berasaskan
Berdasarkan
Bercorakkan
|
Bermodalkan
Berlandaskan
Bertuhankan
Berselimutkan
Bertaburkan
Berbantalan
Beratapkan
Berdindingkan
Berlantaikan
Berlaukkan
Bermotifkan
|
Perlu
dicatat verba bermandikan tampaknya agak berbeda, sebab verba bermandi tidak
ada. Verba ini muncul dalam konstruksi bermandi cahaya yang prosesnya adalah
prefiks ber- diimbuhkan pada frase mandi cahaya atau ber + mandi cahaya.
v Verba
Bersufiks –kan
Dalam prosesnya, sufiks –kan,
bila diimbuhkan pada dasar yang memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+
sasaran) akan membentuk verba bitransitif, yaitu verba yang berobjek dua. Bila
diimbuhkan pada dasar yang lain, sufiks –kan akan membentuk pangkal (stem) yang
menjadi dasar dalam pembentukan verba inflektif.
Verba bersufiks –kan digunakan dalam
·
kalimat imperatif. Contoh:
- lemparkan
bola itu ke sini!
-
tuliskan namamu di sini!
-
gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar!
·
kalimat pasif yang predikatnya berpola: (aspek) +
pelaku + verba, dan subjeknya menjadi sasaran tindakan. Contoh:
- rumah itu baru kami
dirikan.
- jembatan itu akan
mereka robohkan.
- tugas itu belum
saya laksanakan.
·
keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola:
yang + (aspek) + pelaku + verba. Contoh:
-
uang yang baru kami terima sudah habis lagi.
-
kami melewati daerah yang sudah mereka amankan.
Verba bersufiks –kan memiliki makna gramatikal:
(a) jadikan.
(b) jadikan berada di.
(c) lakukan untuk orang lain.
(d) lakukan akan.
(e) bawa masuk ke.
v Verba Bersufiks –kan memiliki makna
gramatikal ′jadikan′
Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ keadaan) atau (+ sifat khas). Contoh:
-
tenangkan, artinya ′jadikan tenang′
-
putuskan, artinya ′jadikan putus′
-
hutankan,
artinya ′jadikan hutan′
-
damaikan, artinya ′jadikan damai′
-
satukan, artinya ′jadikan satu′.
v Verba Bersufiks –kan memiliki makna
gramatikal ′jadikan berada di′
Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tempat) atau (+ arah). Contoh:
-
pinggirkan, artinya ′jadikan berada di
pinggir′
-
daratkan,
artinya ′jadikan berada di darat′
-
ketengahkan,
artinya ′jadikan berada di tengah′
-
tempatkan,
artinya ′jadikan berada di tempat′
-
gudangkan,
artinya ′jadikan berada di gudang′.
v Verba Bersufiks –kan memiliki makna
gramatikal ′lakukan untuk orang lain′
Apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna (+ tindakan) dan (+ sasaran). Contoh:
-
bukakan, artinya ′lakukan buka untuk
(orang lain)’
-
ambilkan,
artinya ′lakukan ambil untuk (orang lain) ′
-
bacakan,
artinya ′lakukan baca untuk (orang lain) ′
-
belikan,
artinya ′lakukan beli untuk (orang lain) ′
-
bawakan,
artinya ′lakukan bawa untuk (orang lain) ′.
v Verba Bersufiks –kan memiliki makna
gramatikal ′lakukan akan′
Apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna (+ tindakan) dan (+ sasaran). Contoh:
-
lemparkan, artinya ′lakukan lempar
akan′.
-
hindarkan, artinya ′lakukan hindar
akan′.
-
hapuskan, artinya ′lakukan hapus akan′.
-
kabulkan, artinya ′lakukan kabul akan′.
-
lompatkan, artinya ′lakukan lompat
akan′.
v Verba Bersufiks –kan memiliki makna
gramatikal ′bawa masuk ke′
Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ ruang). Contoh:
-
asramakan, artinya ′bawa masuk ke
asrama′.
-
gudangkan, artinya ′bawa masuk ke
gudang′.
-
rumahkan, artinya ′bawa masuk ke rumah′.
-
petikan, artinya ′bawa masuk ke peti′.
Catatan:
Verba
bersufiks –kan lazim menjadi dasar dalam pembentukan verba berprefiks me- inflektif, di- inflektif
dan ter- inflektif, seperti terdapat pada kata melompatkan,
dilompatkan dan terlompatkan. Jadi, dalam
bentuk verba berklofiks me-kan,
di-kan dan ter-kan, dimana verba me-kan digunakan dalam kalimat akif transitif, verba di-kan digunakan dalam
kalimat pasif tindakan dan verba ter-kan dalam
kalimat pasif keadaan.
v Verba Bersufiks –i
Verba
bersufiks –i adalah verba transitif, yang berlaku juga sebagai pangkal (stem) dalam pembentukan verba inflektif.
Verba bersufiks –i digunakan dalam:
·
kalimat imperatif. Contoh:
-
tolong gulai teh ini!
-
mari kita hampiri anak itu!
-
lompati saja pagar itu!
·
kalimat pasif yang predikatnya berpola:
(aspek) + pelaku + verba, dan subjeknya
menjadi sasaran perbuatan. Contoh:
-
kemarin beliau sudah kami hubungi.
-
anak-anak yatim itu harus kita santuni.
-
gurumu itu mesti kamu hormati dengan
baik.
·
keterangan tambahan pada subjek atau
objek yang berpola: yang + (aspek)
+ pelaku + verba. Contoh:
-
desa yang akan kita kunjungi berada di
balik bukit itu.
-
orang yang harus kamu surati sudah ada
di sini.
-
banjir melanda wilayah yang akan kita
datangi.
Verba bersufiks –i memiliki makna gramatikal:
-
berulang
kali
-
tempat
-
merasa sesuatu pada
-
beri
atau bubuh pada,
-
sebabkan
atau jadikan
-
lakukan pada.
· Verba bersufiks –i memiliki makna
gramatikal ′berulang kali′
Apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna (+ tindakan) dan (+ sasaran). Contoh:
-
pukuli, artinya ′pekerjaan pukul
dilakukan berulang kali′.
-
sembahi, artinya ′pekerjaan sembah
dilakukan berulang kali′.
-
lempari, artinya ′pekerjaan lempar
dilakukan berulang kali′.
-
tendangi, artinya ′pekerjaan tendang
dilakukan berulang kali′.
-
potongi, artinya ′pekerjaan potong
dilakukan berulang kali′.
·
Verba
bersufiks –i memiliki makna gramatikal ′tempat′
Apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna (+ tempat). Misalnya:
-
duduki, artinya ′duduk di ... ′.
-
datangi, artinya ′datang di ... ′.
-
lewati, artinya ′lakukan lewat di ... ′.
-
lompati, artinya ′lakukan lompat di ...
′.
-
jalani, artinya ′lakukan jalan di ... ′.
·
Verba
bersufiks –i memiliki makna gramatikal ′merasa sesuatu pada′
Apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna (+ sikap batin) atau (+ emosi). Misalnya:
-
kasihi, artinya ′merasa kasih pada′.
-
takuti, artinya ′merasa takut pada′.
-
hormati, artinya ′merasa hormat pada′.
-
senangi, artinya ′merasa hormat pada′.
-
sukai, artinya ′merasa suka pada′.
·
Verba
bersufiks –i memiliki makna gramatikal ′beri atau bubuh pada′
Apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna (+ bahan berian). Contoh:
-
garami, artinya ′beri garam pada′.
-
airi, artinya ′beri air pada′.
-
nasihati, artinya ′beri nasihat pada′.
-
gulai, artinya ′beri gula pada′.
-
danai, artinya ′beri dana pada′.
·
Verba
bersufiks –i memiliki makna gramatikal ′sebabkan atau jadikan′
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna (+ keadaan) atau (+ sifat). Contoh:
-
lengkapi, artinya ′jadikan lengkap′.
-
cukupi, artinya ′jadikan cukup′.
-
jauhi, artinya ′jadikan jauh′.
-
dekati, artinya ′jadikan dekat′.
-
kurangi, artinya ′jadikan kurang′.
·
Verba
bersufiks –i memiliki makna gramatikal ′lakukan pada′
Apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ tempat). Misalnya:
-
tulisi, artinya ′lakukan tulis pada′.
-
diami, artinya ′lakukan diam pada′.
-
semburi, artinya ′lakukan sembur pada′.
-
siasati, artinya ′lakukan siasat pada′.
-
tanggapi, artinya ′lakukan tanggap
pada′.
·
Verba Berprefiks per-
Verba
berprefiks per- adalah verba yang bisa menjadi pangkal dalam pembentukan
verba inflektif. Verba berprefiks per- dapat digunakan dalam:
(1)
Kalimat imperatif. Misalnya:
-
persingkat bicaramu!
-
perpanjang dulu KTP-mu ini!
-
perdalam ilmumu!
(2)
Kalimat pasif yang berpola: (aspek) + pelaku + verba. Misalnya:
-
penjagaan akan kami perketat nanti
malam.
-
syarat-syarat harus kita perlunak untuk
mereka.
-
masjid ini akan kami perluas ke arah
timur.
(3)
Keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola: yang + aspek + pelaku + verba. Misalnya:
-
saluran yang telah kami perdalam kini
telah dangkal lagi.
-
gubernur akan meninjau bangunan yang
baru kita perluas.
-
mobil yang belum lama kami perbaiki
mogok lagi.
Verba berprefiks per- memiliki makna
gramatikal:
-
jadikan lebih.
-
anggap sebagai.
-
bagi.
v Verba berprefiks per- memiliki makna gramatikal
′jadikan lebih′
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna (+ keadaan) atau (+ situasi). Contoh:
-
pertinggi, artinya ′jadikan lebih
tinggi′.
-
perlebar, artinya ′jadikan lebih lebar′.
-
perlambat, artinya ′jadikan lebih
lambat′.
-
percepat, artinya ′jadikan lebih cepat′.
-
perluas, artinya ′jadikan lebih luas′.
v Verba berprefiks per- memiliki makna
gramatikal ′anggap sebagai′ atau ′jadikan′
Apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna (+ sifat khas). Contoh:
- perbudak,
artinya ′anggap sebagai budak′.
- perkuda,
artinya ′anggap sebagai kuda′.
- peristri,
artinya ′jadikan istri ′.
-
peranak, artinya ′jadikan anak ′.
-
perteman, artinya ′jadikan teman′.
v Verba berprefiks per- memiliki
makna gramatikal ′bagi′
Apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna (+ jumlah) atau (+ bilangan). Misalnya:
-
perdua, artinya ′bagi dua′.
-
perjam, artinya ′tiap-tiap jam′.
-
perbulan, artinya tiap-tiap bulan′.
-
perseribu, artinya ′bagi seribu′.
-
perdelapan, artinya ′bagi delapan′.
v Verba
Berkonfiks per-kan
Verba
berkonfiks per-kan adalah verba yang bisa menjadi pangkal dalam pembentukan
verba inflektif (berprefiks me-, berprefiks di-, atau berprefiks ter-). Verba berkonfiks
per-kan digunakan dalam:
(1)
Kalimat imperatif. Misalnya:
-
persiapkan dulu bahan-bahanya!
-
jangan perdebatkan lagi masalah itu!
-
jangan persamakan aku dengan dia!
(2) Kalimat pasif yang
predikatnya berpola: (aspek) + pelaku + verba. Contoh:
-
anak itu akan kita pertemukan dengan
orang tua angkatnya.
-
masalah itu akan kami pertanyakan lagi.
-
usulmu itu sedang kami pertimbangkan .
(3)
Keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola: yang + (aspek) + pelaku +
verba. Contoh:
-
tarian yang sudah mereka pertunjukkan
akan diulang lagi.
-
film yang mereka hendak persembahkan
perlu disensor dulu.
-
kami menyenangi lagu-lagu yang telah
mereka perdengarkan.
Verba
berkonfiks per-kan memiliki makna gramatikal:
(1)
Jadikan bahan (per-kan).
(2)
Lakukan supaya.
(3)
Jadikan me-.
(4)
Jadikan ber-.
v Verba berkonfiks per-kan memiliki
makna gramatikal ′jadikan bahan per-an′
Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ kegiatan). Contoh:
-
perdebatkan, artinya ′jadikan bahan
perdebatan′.
-
pertanyakan, artinya ′jadikan bahan
pertanyaan′.
-
pertentangkan, artinya ′jadikan bahan
pertentangan′.
v Verba berkonfiks per-kan memiliki
makna gramatikal ′lakukan supaya (dasar)
Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ keadaan). Contoh:
-
persamakan, artinya ′lakukan supaya
sama′.
-
pertegaskan, artinya ′lakukan supaya
tegas′.
-
perbedakan, artinya ′lakukan supaya
beda′.
v Verba berkonfiks per-kan memiliki
makna gramatikal ′jadikan me-′
Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tindakan). Contoh:
·
perdengarkan, artinya ′jadikan (orang
lain) mendengar′.
·
perlihatkan, artinya ′jadikan (orang
lain) melihat′.
·
pertontonkan, artinya ′jadikan (orang
lain) menonton′.
1)
Verba
berkonfiks per-kan memiliki makna granatikal ′jadikan ber-′
Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ kejadian). Contoh:
-
perhubungkan, artinya ′jadikan
berhubungan′.
-
pertemukan, artinya ′jadikan bertemu′.
-
pergunakan, artinya ′jadikan berguna′.
Catatan:
1.
Verba berkonfiks per-kan dapat menjadi pangkal dalam pembentukan verba inflektif. Jadi, secara aktual dapat diberi
prefiks me- inflektif dan prefiks di- inflektif, secara potensial dapat diberi ter- inflektif. Contoh, pertemukan
dapat menjadi mempertemukan,
dipertemukan dan terpertemukan.
2.
Verba berkonfiks per-kan jumlahnya tidak banyak. Di antara yang tidak banyak itu adalah:
Permalukan
Perkenankan
Perbedakan
Persekutukan
Pergunjingan
Persatukan
Pertautkan
Pertontonkan
|
Pergunakan
Permainkan
Perdayakan
Perlihatkan
Perhubungkan
Perjuangkan
Pertentangkan
perbolehkan
|
v Verba
Berkonfiks per-i
Verba
berkonfiks per-i adalah verba yang dapat menjadi pamgkal dalam pembentukan
verba inflektif (berprefiks me- inflektif, di- inflektif, atau ter- inflektif).
Verba berkonfiks per-kan digunakan dalam:
·
kalimat imperatif. Contoh:
-
perbaiki dulu sepeda ini!
-
jangan permalui dia depan orang banyak!
-
pergaulilah istrimu dengan baik!
· kalimat
pasif yang predikatnya berpola: (aspek) + pelaku + verba. Contoh:
-
mobil itu baru kita perbaiki.
-
tanah ini masih mereka persengketai.
-
mereka akan kami perlengkapi dengan
alat-alat pertanian.
· keterangan
tambahan pada subjek atau objek yang berpola: yang + (aspek) + pelaku + verba. Contoh:
-
rumah yang baru kami perbaiki terkena
gempa.
-
kasihan sekali anak-anak yang mereka
perdayai itu.
-
mobil yang sudah kita perlengkapi dengan
alarm hilang juga.
Verba
per-i memiliki makna gramatikal:
(1)
lakukan supaya jadi.
(2)
lakukan (dasar) pada objeknya.
v Verba berkonfiks per-i memiliki
makna gramatikal ′lakukan supaya jadi′
Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ keadaan). Contoh:
-
perlengkapi, artinya ′lakukan supaya
jadi lengkap′.
-
perbaiki, artinya ′lakukan supaya jadi
baik′.
-
persepakati, artinya ′lakukan supaya
jadi sepakat′.
-
perbarui, artinya ′lakukan supaya jadi
baru′.
-
permalui, artinya ′lakukan supaya jadi
malu′.
v Verba berkonfiks per-i memiliki
makna gramatikal ′lakukan (dasar) pada objeknya′
Apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+
lokasi). Contoh:
-
perturuti, artinya ′lakukan turut pada
objeknya′.
-
persetujui, artinya ′lakukan setuju pada
objeknya′.
-
persepakati, artinya ′lakukan sepakat
pada objeknya′.
-
pergauli, artinya ′lakukan gaul pada
objeknya′.
-
perlindungi, artinya ′lakukan lindungi
pada objeknya′.
Catatan:
1.
Verba berkonfiks per-i dapat menjadi pangkal dalam pembentukan verba inflektif. Jadi, secara aktual dapat
diberi prefiks me- dan prefiks di- inflektif, dan secara potensial dapat diberi prefiks ter- inflektif.
Contohnya, pada kata perbaiki dapat
dibentuk menjadi memperbaiki, diperbaiki, dan terperbaiki.
2.
tampaknya verba berkonfiks per-i jumlahnya tidak banyak, terbatas pada yang diberikan di atas sebagai contoh.
3.
verba persenjatai bermakna gramatikal ′lakukan supaya jadi bersenjata′.
v Verba Berprefiks me-
Prefiks me-
seperti sudah dibicarakan, dapat berbentuk me-, mem-, men-, meny-, meng-, dan
menge-.
Bentuk atau alomorf me-
digunakan apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem r, l, w, y, m, n, ny,
dan ng. Simak contoh-contoh berikut:
Merakit
Melekat
Mewarisi
Meyakini
Memerah
Menanti
Menyanyi
Menganga
|
Merawat
Melongok
Mewasiatkan
Meyayasankan
Memulaskan
Menaiki
Menyala
Mengerikan
|
Bentuk
atau alomorf mem- digunakan apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem b, p,
f , dan v. Dengan catatan fonem b, f, dan v tetap berwujud, sedangkan fonem p
tidak diwujudkan, melainkan disenyawakan dengan bunyi nasal dari prefiks itu.
Simak contoh-contoh berikut:
Membina
Memfitnah
Memveto
Memotong
|
Membawa
Menfrasekan
Memvitaminkan
Memutuskan
|
Di
sini perlu dicatat dalam kenyataan bahasa ada sejumlah kata, terutama yang
berasal dari bahasa asing, yang meskipun diawali dengan fonem p tetapi tidak
diluluhkan. Perhatikan contoh:
Mempesonakan
Mempedulikan
Mempengaruhi
Mempopulerkan
Memprotes
Mempraktikkan
Mempedomani
|
atau
|
Memesonakan
Memedulikan
Memengaqruhi
Memopulerkan
Memerotes
Memeraktekkan
Memedomani
|
Demi
kekonsistenan, dalam buku ini dianjurkan untuk menggunakan bentuk yang
meluluhkan fonem p itu.
Bentuk men- digunakan apabila bentuk
dasarnya dimulai dengan fonem d dan t. Dengan catatan fonem d tetap diwujudkan
sedangkan fonem t tidak diwujudkan melainkan disenyawakan dengan bunyi nasal
yang ada pada prefiks tersebut. Simak contoh-contoh berikut:
Menduda
Mendidik
Menulis
Menodong
|
Mendengar
Mendustai
Menendang
Menerobos
|
Dalam
bahasa keseharian, terutama di Jakarta, ada sejumlah kata berprefiks me-,
tetapi fonem t pada awal bentuk dasarnya tidak diluluhkan atau disenyawakan,
seperti mentolerir, mentradisi, mentraktor dan sebagainya.
Bentuk
meny- digunakan apabila fonem awal bentuk dasarnya adalah fonem c, j dan s.
Dengan catatan dalam bahasa tulis bunyi ny pada prefiks itu diganti atau
dituliskan dengan huruf n pada dasar yang dengan fonem c dan j, sedangkan yang
dimulai dengan fonem s, fonem s-nya diluluhkan. Simak contoh-contoh berikut:
-
mencuri (
lafalnya: menycuri)
-
mencicil (
lafalnya: menycicil)
-
menjual
(lafalnya: menyjual)
-
menjaga
(lafalnya: menyjaga)
-
menyikat
-
menyusul
Dalam
bahasa keseharian, terutama kata serapan dari bahasa asing, bunyi nasal pada bentuk
dasarnya tidak diluluhkan. Contoh:
-
mensukseskan
-
mensitir
-
menstandarkan
-
mensosialisasikan
Bentuk meng- digunakan apabila
bentuk dasarnya mulai dengan fonem k, g, h, kh, a, z, e, dan o. Dengan catatan
fonem k tidak diwujudkan, melainkan disenyawakan dengan nasal yang ada pada
prefiks itu, sedangkan fonem-fonem yang lain tetap diwujudkan. Simak
contoh-contoh berikut:
Mengirim
Menggali
Menghibur
Mengkhianati
Mengambil
Mengiris
Mengutus
Mengekor
Mengobrol
|
Mengumpulkan
Menggoda
Menghubungi
Mengkhususkan
Menyangkal
Mengincar
Mengusik
Mengelak
Mengobras
|
Bentuk menge- digunakan apabila bentuk dasarnya
terdiri dari sebuah suku kata. Contoh:
Mengebom
Mengetik
Mengecor
|
Mengecat
Mengelap
Mengetes
|
Catatan:
Dalam
penggunaan bahasa keseharian kita temukan:
(1)
bentuk kata-kata yang mulai dengan gugus konsonan, biasanya berasal dari bahasa asing atau bahasa daerah ada dua cara
dalam pengimbuhan prefiks me-. Kedua cara
itu:
pertama,
untuk kata-kata yang dianggap belum berintegrasi digunakan kaidah pengimbuhan di atas, namun tanpa
meluluhkan fonem awal bentuk dasarnya. Contoh:
-
mengkritik
-
memprotes
-
menswadayakan
-
mengkalsifikasikan
-
menstandarkan
Kedua, kedua untuk kata-kata yang
dianggap lebih berintegrasi, mula-mula disipkan
fonem e pada gugus konsonannya, kemudian baru diberi prefiks me- menurut aturan, dan dengan
meluluhkan fonem awal bentuk dasarnya. Contoh:
-
kritik
keritik
mengeritik
-
proses
peroses
memeroses
-
kredit
keredit
mengeredit
-
stensil
setensil
menyetensil
-
prihatin
perihatin
memerihatinkan
(2)
dalam rangka bahasa tidak baku prefiks me- hanya berwujud bentuk nasalnya saja, yang oleh kridalaksana (1989)
disebut simulfiks. Contoh:
-
milih
(bukan memilih)
-
nyikat
(bukan menyikat)
-
nendang
(bukan menendang)
-
ngirim
(bukan mengirim)
-
ngecat
(bukan mengecat)
-
ngelarang
(bukan melarang)
-
bunuh
(bukan membunuh)
(3)
perlu dibedakan adanya dua macam prefiks me-, yaitu prefiks me- inflektif dan prefiks me- derivatif. Beda keduanya
prefiks me- inflektif dapat diganti dengan prefiks
di- inflektif atau prefiks er- inflektif. Sedangkan prefiks me- derivatif tidak
dapat diganti dengan prefiks di-
maupun prefiks ter-.
v Verba Berprefiks me- inflektif
Bentuk dasar atau pangkal verba berprefiks me-
inflektif memiliki komponen
makna (+ tindakan) dan (+ sasaran). Jadi, bentuk dasar atau pangkal dalam
pembentukan verba inflektif, di samping berbentuk morfem dasar atau akar juga
termasuk verba bersufiks –kan, bersufik –i, berprefiks per-, berkonfiks per-kan dan berkonfiks per-i.
Contoh:
Membaca
Melupakan
Merestui
Memperpanjang
Mempergunakan
Mempergauli
|
Menulis
Menidurkan
Menodai
Mempersingkat
Memperdayakan
Mempertakuti
|
Verba
berprefiks me- inflektif memiliki makna gramatikal:
·
kalau bentuk dasarnya atau pangkalnya
berupa morfem dasar adalah:
-
Melakukan (dasar).
-
Melakukan kerja dengan alat.
-
Melakukan kerja dengan bahan.
-
Membuat (dasar).
·
kalau pangkalnya berupa verba bersufiks
–kan, maka makna gramatikalnya adalah
seperti sudah dibicarakan pada subbab 4.
·
kalau pangkalnya berupa verba bersufiks
–i, maka makna gramatikalnya adalah seperti
sudah dibicarakan pada subbab 5.
·
kalau pangkalnya berupa verba berprefiks
-per, maka makna gramatikalnya adalah
seperti sudah dibicarakan pada subbab 6.
·
kalau pangkalnya berupa verba berkonfiks
per-kan, maka makna gramatikalnya adalah
seperti sudah dibicarakan pada subbab 7.
·
kalau pangkalnya berupa verba berkonfiks
per-i, maka makna gramatikalnya adalah
seperti sudah dibicarakan pada subbab 8.
Ø Verba
berprefiks me- inflektif memiliki makna gramatikal ′melakukan (dasar)′ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna (+ tindakan) dan (+ sasaran). Contoh:
-
membeli, artinya ′melakukan beli′.
-
menulis, artinya ′melakukan tulis′.
-
mencuri”artinya melakukan curi’
Ø Verba
berprefiks me- inflektif memiliki makna gramatikal ′melakukan kerja dengan alat′ apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ alat).
Contoh:
- mengikir,
artinya ′melakukan kerja dengan alat kikir′.
- memahat,
artinya ′melakukan kerja dengan alat pahat′
- mengunci
,artinya”melakukan kerja dengan alat kunci”.
Ø Verba
berprefiks me- inflektif memiliki makna gramatikal ′melakukan kerja dengan bahan′ apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+
bahan). Contoh:
-
mengapur, artinya ′lakukan kerja dengan
bahan kapur′.
-
mengecat, artinya ′lakukan kerja dengan
bahan cat′.
-
menyemen,artinya’melakukan kerja dengan
bahan semen”
Ø Verba
berprefiks me- inflektif memiliki makna gramatikal ′membuat dasar′ apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna (+ tindakan) dan (+ benda hasil). Contoh:
-
menyambal, artinya ′membuat sambal′.
-
menumis, artinya ′membuat tumis′.
-
mendekor ,artinya’membuat dekor’
v Verba Berprefiks me- derivatif
Verba berprefiks me- derivatif memiliki makna
gramatikal:
-
makan, minum, mengisap.
-
mengeluarkan.
-
menjadi seperti
Ø Verba
berprefiks me- derivatif memiliki makna gramatikal makan, minum, mengisap apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna (+ makanan) atau (+ minuman) atau (+ isapan).
Contoh:
-
merokok, artinya ′menghisap rokok′.
-
menyoto, artinya ′makan soto ′.
-
menuak,artinya ‘minum tuak’
Catatan:
Makna
gramatikal menyoto dan menyate bisa menjadi ′membuat′ tergantung pada konteks kalimatnya.
Ø Verba
berprefiks me- derivatif memiliki makna gramatikal mengeluarkan (dasar)
apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (bunyi) atau (+ suara). Contoh:
-
mengeong, artinya ′mengeluarkan bunyi
ngeong′.
-
mengaum, artinya ′mengeluarkan bunyi
ngaum′.
Ø Verba
berprefiks me- derivatif memiliki makna gramatikal menjadi (dasar) apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna (+ keadaan, ) atau (+ warna)
atau (+ bentuk) atau (+ situasi).
-
menguning, artinya ′menjadi kuning′.
-
meninggi, artinya ′menjadi tinggi′
-
menua ,artinya ‘menjadi tua’.
Ø Verba
berprefiks me- derivatif memiliki makna gramatikal menjadi seperti apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna
(+ sifat khas). Contoh:
-
membatu, artinya ′menjadi seperti batu′.
-
membaja, artinya ′menjadi seperti baja′.
-
menyemak ,artinya ‘menjadi seperti
semak’
Ø Verba
berprefiks me- derivatif memiliki makna gramatikal makan, minum, mengisap
apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ makanan) atau (+ minuman)
atau (+ isapan).
-
menepi, artinya ′menuju tepi′.
-
mengutara, artinya ′menuju utara′.
-
melangit,artinya ‘menuju langit’
Ø Verba
berprefiks me- derivatif memiliki makna gramatikal makan, minum, mengisap
apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ makanan) atau (+ minuman)
atau (+ isapan).
-
meniga hari, artinya ′memperingati hari
ketiga (kematian)′.
-
menujuh hari, artinya ′memperingati hari
ketujuh (kematian) ′.
-
menyeribu hari,artinya ‘memperingati
hari keseribu(kematian)’
v Verba Berprefiks di-
Ada dua macam verba
berprefiks di-, yaitu verba berprefiks di- inflektif dan verba berprefiks di-
derivatif.
1)
Verba
berprefiks di- inflektif
Verba berprefiks di- inflektif adalah
verba pasif. Tindakan dari verba berprefiks me- inflektif. Maka makna
gramatikalnya adalah kebalikan dari bentuk aktif verba berprefiks me-
inflektif.
2)
Verba berprefiks di- derivatif
sejauh data yang diperoleh hanya ada kata dimaksud, yang lain tidak ada.
Ø Verba
Berprefiks ter-
Ada dua macam verba
berprefiks ter-, yaitu verba berprefiks di- inflektif dan verba berprefiks ter- derivatif.
ü Verba berprefiks ter- inflektif
Verba berprefiks ter- inflektif adalah
verba pasif keadaan dari verba berprefiks me- inflektif. Makna gramatikal verba
berprefiks ter- inflektif, selain sebagai kebalikan pasif keadaan dari verba
berprefiks me- inflektif, juga memiliki makna gramatikal.
-
dapat / sanggup.
-
tidak sengaja.
-
sudah terjadi.
ü Verba
berprefiks ter- inflektif memiliki
makna gramatikal ′dapat / sanggup′ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna (+ tindakan) dan (+ sasaran).
Contoh:
-
terangkat, artinya ′dapat diangkat′.
-
terbaca, artinya ′dapat dibaca′.
-
terangkut,artinya’dapat diangkut’
ü Verba
berprefiks ter- inflektif memiliki makna gramatikal ′tidak sengaja ′ apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ sasaran).
Contoh:
-
terangkat, artinya ′tidak sengaja
diangkat′
-
terbawa.artinya’tidak sengaja dibawa’
-
terbaca, artinya ′tidak sengaja dibaca′.
Catatan:
Makna
gramatikal verba berprefiks ter- di atas, masih tergantung pada konteks kalimatnya.
ü Verba
berprefiks ter- inflektif memiliki makna gramatikal ′sudah terjadi′ apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ keadaan).
Contoh:
-
terbakar, artinya ′sudah terjadi
(bakar)′.
-
terputus, artinya ′sudah terjadi
(putus)′.
-
terjepit,artinya;sudah terjadi(terjepit)
ü Verba
berprefiks ter- inflektif memiliki makna gramatikal ′yang di (dasar) ′ apabila
digunakan sebagai istilah bidang hukum.
Contoh:
-
tertuduh, artinya ′yang dituduh′.
-
tersangka, artinya ′yang disangka′.
-
terdakwa,artinya ‘yang didakwa’
v Verba berprefiks ter- derivatif
Verba berprefiks
ter- derivatif memiliki makna gramatikal:
-
paling.
-
dalam keadaan.
-
terjadi dengan tiba-tiba.
ü Verba
berprefiks ter- derivatif memiliki makna gramatikal ′paling′ apabila bentuk
dasarnya memiliki komponen makna (+ keadaan).
Contoh:
-
terbaik, artinya ′paling baik′.
-
tertinggi, artinya ′paling tinggi′.
-
terjauh,artinya’paling jauh’
ü Verba
berprefiks ter- derivatif memiliki makna gramatikal ′dalam keadaan′ apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ keadaan) dan (+ kejadian).
Contoh:
-
tergeletak, artinya ′dalam keadaan
geletak′.
-
terdampar, artinya ′dalam keadaan
dampar′.
-
terpasang,artinya’dalam keadaan pasang’
ü Verba
berprefiks ter- derivatif memiliki makna gramatikal ′terjadi dengan tiba-tiba′
apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ kejadian).
Contoh:
-
teringat, artinya ′tiba-tiba ingat′.
-
terpeluk, artinya ′tiba-tiba memeluk′.
-
tertegun ,artinya’tiba-tiba tegun’
v Verba Berprefiks ke-
Verba berprefiks ke-
digunakan dalam bahasa ragam tidak baku. Fungsi dan makna gramatikalnya sepadan
dengan verba berprefiks ter-. Jadi, bentuknya sebagai berikut:
Kebaca
Ketipu
Ketabrak
Kebawa
Ketangkap
|
Sepadan dengan
|
Terbaca
Tertipu
Tertabrak
Terbawa
Tertangkap
|
Makna
gramatikal yang dimiliki, antara lain:
-
tidak sengaja.
-
dapat di.
-
kena (dasar).
v Verba Berkonfiks ke-an
Verba berkonfiks ke-an
termasuk verba pasif, yang tidak dapat dikembalikan ke dalam verba aktif,
seperti verba pasif di- dan verba pasif ter-. Makna gramatikal yang dimilikinya
adalah:
-
terkena, menderita atau mengalami.
-
agak bersifat.
v Verba berkonfiks ke-an
memiliki makna gramatikal ′terkena, menderita,
mengalami (dasar) ′ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ peristiwa
alam) atau (+ hal yang tidak enak). Contoh:
-
kebanjiran, artinya ′terkena banjir′.
-
kebakaran, artinya ′menderita bakar ′.
-
kecopetan ,artinya ‘terkena copet’
v Verba
berkonfiks ke-an
memiliki makna gramatikal
′agak (dasar)′ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ warna).
Contoh:
-
kehijauan, artinya ′agak hijau′.
-
kemerahan, artinya ′agak merah′.
-
kekuningan ,artinya ‘agak kuning’
Perlu dicatat, di dalam pemakaian
lazim disertai dengan nama warna lain
di depannya dan bentuk reduplikasi. Contoh:
-
hijau kekuningan atau hijau
kekuning-kuningan.
-
merah kehitaman atau merah kehitam-hitaman.
-
biru kemerahan atau biru kemerah-merahan
kata-kata berkelas nomina, selain berbentuk
akar (nomina), banyak pula yang terbentuk melalui proses afiksasi. pembentukan
dengan afiksasi ini ada yang dibentuk langsung dari akar, tetapi sebagian besar
dibentuk dari akar melalui kelas verba dari akar itu (Abdul Chaer: Morfologi
Bahasa Indonesia 2008:144).
Afiks- Afiks
Pembentukan Nomina :
1. Prefiks ke-
2. Konfiks ke-an
3. Prefiks pe-
4. Konfiks pe-an
5. Konfiks per-an
6. Sufiks –an
7. Sufiks –nya
8. Prefiks ter-
9. Infiks –el, -em, dan –er
10. Sufiks dari bahasa asing.
v Nomins Berprefiks ke-
Nomina
berprefiks ke- sejauh data yang ada hanyalah ada tiga buah kata, yaitu ketua, kekasih dan berkehendak
dengan makna gramatikal ‘yang dituai’, ‘yang dikasihi’
dan ‘yang dikehendak’. contoh lain tidak ada
v Nomina berkonfiks ke-an
Pembentukan
ada 2 (dua) macam :
(1) Di
bentuk langsung dari bentuk akar (dari akar tunggal maupun akar majemuk)
contoh:
-
kehutanan
hutan + ke-an
-
keolahragaan
olahraga + ke-an
(2) Di
bentuk dari akar melalui verba menjadi predikat dalam satu klausa.
contoh:
-
keberanian (yang diturunkan dari verba
berani,dari klausa’mereka sungguh berani)
-
kesedihan (yang diturunkan dari verba
sedih ,dari klausa’kaminsangat sedih)
v Nomina berkonfiks ke-an
Yang di bentuk langsung dari bentuk dasar
memiliki makna gramatikal (a)’hal(dasar)’atau’tentang(dasar)’;dan
(b)’tempat’atau’wilayah’.
-
Nomina berkonfiks ke-an yang di bentuk
langsung dari dasar memiliki makna gramatikal ‘hal(dasar)’ apabila bentuk
dasarnya itu memiliki komponen makna(+bendaan) dan (+objek bicara).contoh:
ü kehutan,artinya
‘hal hutan’
ü keolahragaan,artinya
‘hal olahraga’
ü keterbacaan
,artinya ‘hal terbaca’
-
Nomina berkonfiks ke-an yang di bentuk
dari dasar memiliki makna gramatikal ‘tempat (dasar)’ atau ‘wilayah (+bendaan),
(+wilayah) dan (+jabatan).contoh:
ü kelurahan
,artinya ‘wilayah lurah’
ü kecamatan
,artinya’wilayah camat
ü kerajaan,artinya’wilayah
raja’
v Nomina berkonfiks ke-an
Yang di bentuk dari dasar melalui verba
(yang di bentuk dari dasar itu dan menduduki fungsi predikat sebuah klausa)
memiliki makna gramatikal (a) ‘hal (dasar)’ dan (b) ‘hasil’.
-
Nomina berkonfiks ke-an yang di bentuk
dari dasar melalui verba/predikat dari suatu klausa memiliki makna gramatikal
‘hal (dasar)’ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+keadaan).contoh
ü keberanian
,artinya ‘hal berani ‘(yang dibentuk dari verba berani ,misalnya dari klausa
‘anak itu berani sekali)
ü kegembiraan
,artinya ‘hal gembira ‘(yang dibentuk dari verba kegembiraan gembira ,misalnya
dari klausa ‘mereka tampak gembira
-
Nomina berkonfiks ke-an yang di bentuk
dari dasar melalui verba/predikat dari suatu klausa memiiki makna gramatikal
‘hasil me-kan’ apabila verba yang di laluinya memiliki komponen makna
(+tindakan) dan (+sasaran).contoh
ü ketetapan
,artinya ‘hasil menetapkan ‘(yang dibentuk misalnya dari klausa ‘MPRakan
menetapkan RUU itu)
ü keputusan,artinya
‘hasil memutuskan ‘(yang dibentuk
misalnya
dari klausa ‘gubenur tak dapat memutuskan perkara itu)
v Nomina Berprefiks pe-
Ada
dua macam proses pembentukan nomina dengan prefiks pe-. yaitu:
-
Prefiks pe- yang mengikuti kaidah persengauan.
Yang menggunakan kaidah persengauan mempunyai hubungan dengan verba berprefiks
me- transitif dan verba dasar.
-
Prefiks pe- yang tidak mengikuti kidah
persengauan. Yang tidak menggunakan kaidah persengauan mempunyai hubungan dengan
verba berprefiks ber- yang menyatakan tindakan.
v Nomina Berprefiks pe- yang
mengikuti Kaidah Persengauan.
Prefiks
pe- yang mengikuti kaidah persengauan dapat berbentuk
pe-, pem-, pen-, peng-, peny-, dan penge-. persengauan sama dengan persengauan
pada prefiks me-. Bentuk atau alomorf pe- digunakan
apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem | r, l, w, y, m, n, ny, dan ng
|. Contoh:
-
Perawat
(verba: merawat).
-
Perakit
(verba:
merakit).
-
pelintas (verba:melintas)
Bentuk
atau alomorf pem- digunakan apabila bentuk dasarnya di mulai dengan fonem | b, p, dan v |. Dengan catatan fonem
| b, f dan v | tetap terwujud, sedangkan fonem
|p| disenyawakan dengan bunyi nasal dari prefiks itu.
Contoh:
-
Pembina
(verba: membina)
-
Pemotong
(verba: memotong)
-
pemveto (verba: memveto)
Secara
aktual bentuk pemfitnah dan pemveto tidak ada, secara potensial bisa ada. Bentuk meny- digunakan apabila
fonem awal bentuk dasarnya adalah fonem | s, c,
dan j|. Dengan catatan fonem |t| tidak diwujudkan melainkan disenyawakan dengan
bunyi nasal yang ada pada
prefiks tersebut.
Contoh;
-
Pendengar
(verba: mendengar)
-
Pendidik
(verba: mendidik)
-
penodong (verba :menodong)
Bentuk
meny- digunakan apabila fonem awal bentuk dasarnya adalah fonem | s,c dan j |. Dengan catatan fonem | s |
disenyawakan dengan bunyi nasal yang ada pada
prefiks itu; sedangkan nasal ny untuk fonem |c dan j| dalam bahasa tulis
diganti dengan huruf < n >.
Contoh:
-
Penyikat
(verba: menyikat).
-
Penyakit
(verba: menyakiti)
-
penjahit (lafal :penyjahit verba menjahit)
Bentuk
atau alomorf peng- digunakan apabila bentuk dasarnya mulai dengan fonem | k, g, h, kh, a, i, u, e, dan o
|. Dengan catatan fonem|k| tidak diwujudkan melainkan
disenyawakan dengan bunyi nasal ng yang ada pada prefiks itu; sedangkan fonem lain tetap diwujudkan.
Contoh:
-
Pengirim
(verba: mengirim).
-
Penggugat
(verba: menggugat).
-
pengiris (verba mengiris)
Bentuk atau
alomorf penge- digunakan apabila bentuk dasarnya berupa bentuk ekasuku.
Contoh:
-
Pengetik (verba:
mengetik).
-
Pengecat (verba:
mengecat).
-
pengetes (verba:mengetes)
Nomina
berprefiks pe- yang mengikuti kaidah persengauan dibentuk dari dasar melalui verba dari suatu klausa,
sehingga makna gramatikal yang di miliki adalah:
-
Yang
(dasar).
-
Yang me- (dasar).
-
Yang me-kan (dasar).
-
Yang mi-i (dasar).
ü Nomina
berprefiks pe- memiliki makna gramatikal ‘yang(dasar)’ apabila dibentuk
dari dasar melalui verba yang sama dengan dasar itu.Contoh:
-
Pendatang
(dari verba datang dalam kalimat
“mereka datang dari luar kota”).
-
Pemabuk
(dari verba mabuk dalam kalimat
“anak-anak itu sering mabuk disana”).
- pemalas
(dari
verba malas dalam kalimat”anak itu memang malas”)
ü Nomina
berprefiks pe- memiliki makna gramatikal ‘yang me-(dasar)’ apabila bentuk dari
dasar melalui verba berprefiks me- yang dibentuk dari dasar itu.Contoh:
- Penulis
(dari dasar tulis melalui verba
menulis).
-
Pelatih
(dari dasar latih melalui
verba melatih).
-
pengajar
(dari
dasar ajar melalui verba mengajar
ü Nomina
berpefiks pe- memiliki makna gramatikal ‘yang me-kan (dasar)’ apabila dibentuk
dari dasar melalui verba berklofiks me-kan yang dibentuk dari dasar itu.Contoh
:
-
Penjinak
(dari dasar jinak melalui verba
menjinakkan).
-
Pembersih
(dari dasar bersih melalui verba
membersihkan).
-
pewangi
(dari
dasar wangi melalui verba mewangikan)
ü Nomina
berprefiks pe- memiliki makna gramatikal ‘yang me-i (dasar)’ apabila dibentuk dari
dasar melalui verba me-i yang dibentuk dari dasar itu. Contoh:
-
Pewaris
(dari dasar waris melalui verba
mewarisi).
-
Pengunjung
(dari dasar kunjung melalui verba
mengunjungi)
-
penurut
(dari
dasar turut melalui verba menuruti )
v Nomina Berprefiks pe- yang Tidak
Mengikuti Kaidah Persengauan
Nomina
berprefiks pe- yang tidak mengikuti kaidah persengauan berkaitan dengan verba berprefiks ber-
atau verba berklofiks memper-kan yang
di bentuk dari dasar itu makna gramatikal yang di miliki adalah ‘yang ber- (dasar)’. Contoh :
-
Peladang
(dari dasar ladang melalui verba
barladang).
-
Pedagang
(dari dasar dagang melalui verba
berdagang).
-
petapa
(dari
dasar tapa melalui verba bertapa)
v Nomina Berprefiks pe- Melalui
Proses Analogi.
Ada dua macam
pembentukan nomina berprefiks pe- yang dibentuk melalui proses analogi. Yaitu :
pertama
, adanya bentuk penyuruh (dengan makna gramatikal ‘yang menyuruh’) dan bentuk
pesuruh (dengan makna gramatikal ‘yng disuruh’), maka dibentuklah
pasangan:
-
Penatar
‘yang menatar’ dan petatar ‘yang
ditatar.
-
Penyuluh ‘yang
menyuluh’ dan pesuluh ‘yang disuluh’.
-
pengubah ‘yang mengubah ‘dan perubah ‘yang diubah’
kedua,adanya
bentuk petinju dan pengulat dengan makna gramatikal ‘yang berolahraga tinju’dan
‘yang berolahraga gulat’maka dibentuklah istilah-istilah seperti
pegoli,peyudo,petembak,petenis,pesepak bola peterjun payung dan pecatur.semua
istilah olahraga ini tidak mengenal kaidah persengauan.
v Nomina Berkonfiks pe-an
Konfiks
pe-an dalam pembentukan nomina mempunyai enam buah bentuk atau alomorf, yaitu pe-an, pem-an, pen-an,
peny-an, peng-an, dan penge-an. Kaidah penggunaan
nya sejalan dengan kaidah persengauan prefiks me- maupun prefiks pe-, yaitu sebagai berikut :
Bentuk
alomorf pe-an digunakan apabila bentuk dasarnya berawal dengan fonem | r, l, w, y, m, n, ny, dan ng |. Contoh:
-
Perawatan,
-
Pelarian,
-
Pewarisan,
-
Penyakinan,
-
Pemantapan
-
Penyanyian,
-
Pengangaan.
Bentuk
atau alomorf pem-an digunakan apabila bentuk dasarnya berawal dengan fonem |b, p, f dan v|. Dengan catatn
fonem |b| tetap diwujudkan, fonem | p | disnyawakan
dengan bunyi sengau dari konfiks yang bersangkutan, sedangkan kata yang berfonem | f dan v | hingga saat
ini masih berupa data potensial. Contoh:
-
Pembinaan,
-
Pembakaran,
-
Pemilihan
-
pemotongan
-
pemfitnahan
-
pemveto
Bentuk atau
alomorf pen-an
yang digunakan apabila bentuk dasarnya berawal dengan
fonem | d dan t |. dengan catatan fonem | d | tetap
diwujudkan, sedangkan fonem | t | disenyawakan
dengan bunyi sengau dan konfiks yang bersangkutan. Contoh:
-
Pendengaran
-
Penderitaan.
-
penertiban
Bentuk atau
alomorf peng-an digunakan apabila bentuk dasarnya berawal dengan fonem | k, g, h, kh, a, i, u, e, dan
o |. Dengan catatn fonem | k | disenyawakan dengan bunyi sengau dari konfiks
itu, sedangkan yang lain tetap diwujudka. Contoh:
-
Pengiriman
-
Penggalian
-
Penghukuman,
-
Pengkhianatan
-
Pengambilan
-
Pengintaian
-
Pengurusan
-
Pengendaraan
-
Pengoperasian.
Bentuk
atau alomorf penge-an
digunakan apabila bentuk dasarnya berupa dasar
ekasuku. Contoh:
-
Pengeboran,
-
Pengecatan
-
Pengetikan
-
Pengesahan
-
Pengecoran.
Proses
pembentukan nomina berkonfiks pe-an dilakukan dari dasar melalui verba berprefiks me-,
berklofiks me-kan atau berklofiks me-i. Oleh karena itu, maka gramatikal yang dimiliki adalah:
-
Proses / hal me-
(dasar).
-
Proses / hal me-kan (dasar).
-
Proses / hal me-i
(dasar).
v Nomina
berkonfiks pe-an
memiliki
makna gramatikal ‘hal / proses me- (dasar)’ apabila dibentuk dari dasar melalui
verba berprefiks me- inflektif. Contoh:
·
Pembacaan, artinya ‘hal membaca’
·
Penulisan, artinya ‘hal menulis’
·
penutupan ,artinya’hal menutup’
v Nomina berkonfiks pe-an
memiliki
makna gramatikal ‘hal/ proses me-kan (dasar)’
apabila dibentuk dari dasar melalui verba berklofiks me-kan yang dibentuk dari
dasar itu. Contoh:
-
Pembenaran, artinya
‘hal membenarkan’.
-
Pegecualian, artinya
‘hal mengecualikan’
-
pemutihan ,artinya ‘hal memutihkan ‘
v Nomina berkonfiks pe-an
memiliki makna
gramatikal ‘hal / proses me-i (dasar)’ apabila dibentuk dari dasar melalui
verba berklofiks me-i yang dibentuk dari dasar itu. contoh:
-
Pewarisan, artinya ‘hal
mewarisi’.
-
Pembenahan, artinya ‘hal membenahi’.
-
Pelucutan, artinya ‘hal
melucutu’.
v Nomina Berkonfiks per-an
Ada
dua macam proses pembentukan nomina dengan konfiks per-an.pertama ,yang
diturunkan dari dasar melalui verba berprefiks ber-dan kedua yang dibentuk
langsung dari dasar nomina
ü Nomina
berkonfiks per-an yang dibentuk dari dasar melalui verba ber- bentuknya
mengikuti perubahan bentuk prefiks ber-, sehingga menjadi bentuk per-an, pe-an, pel-an.
Bentuk
atau alomorf per-an digunakan apabila diturunkan dari dasar memulai verba berbentuk ber-, misalnya:
-
Perdagangan
(dari verba berdagang).
-
Perselingkuhan
(dari verba berselingkuh).
-
perdebatan (dari verbaberdebat)
Bentuk
atau alomorf pe-an digunakan apabila diturunkan dari dasar melalui verba berbentuk be-. misalnya:
-
Pekerjaan
(dari
verba bekerja).
-
Peternakan
(dari verba beternak).
-
percerminan (dari verba bercermin)
Bentuk
atau alomorf pel-an hanya digunakan satu-satunya pada dasar ajar melalui verba belajar, sehingga menjadi
pelajaran. Hanya makna gramatikalnya bukan ‘hal
/ proses belajar’. Melainkan ‘ bahan belajar’.
ü Nomina
berkonfiks per-an yang dibentuk dari dasar (baik akar maupun bukan) nomina, seperti:
-
Perkaretan
-
Perburuhan
-
Perkantoran
-
perbelanjaan
-
perkeretaapian
Makna
gramatikal nomina berkonfiks per-an, baik yang dibentuk dari dasar melalui verba ber-, maupun yang
langsung dari dasar adalah; ‘ hal atau tentang (dasar)’.
Namun, dalam pemakaian memiliki makna, antara lain:
ü ‘hal
ber- (dasar)’, seperti:
-
Pergerakan, bermakna
‘hal bergerak’.
-
Perselingkuhan, bermakna
‘hal berselingkuh’.
-
pertemuan,bermakna ‘hal bertemu’
ü ‘hal,
tentang atau masalah (dasar), seperti:
- Perekonomian, artinya ‘hal ekonomi’.
-
Perkreditan, artinya
‘hal kredit’.
-
perkotaan ,artinya
‘hal kota’
ü ‘daerah,
wilayah atau tempat’, seperti:
-
Pegunungan, berarti‘daerah gunung’.
-
Pedalaman, berarti ‘daerah dalam’
-
pertapaan,berarti ‘tempat tapa’
v Nomina Bersufiks –an
Ada tiga macam proses pembentukan
nomina bersufiks –an.pertama ,yang dibentuk dari dasar melalui verba
berprefiks me-inflektif.kedua ,yang dibentuk dari dasar melalui verba
berprefiks me – inflektif.kedua yang dibentuk dari dasr melalui verba
berprefiks ber-; dan ketiga dasr langsung diberi sufiks –an itu .ketiga dasar
langsung diberi sufiks –an itu.ketiga cara
ini memiliki makna gramatikal masing-masing
v Nomina
brsufiks –an
yang
dibentuk dari dasar melalui verba berprefiks me- inflektif memiliki makna gramatikal:
-
Hasil me- (dasar).
-
Yang di- (dasar).
-
Alat me- (dasar).
v Nomina
bersufiks –an
yang
dibentuk dari dasar melalui verba bersufiks inflektif memiliki makna
gramatikal ‘hasil me- (dasar)’ apabila hubungan antara verba me- inflektif yang dibentuk dari dasar itu
dengan objeknya me- menyatakan ‘hasil’, seperti:
-
Tulisan, dalam arti
‘hasil menulis (diturunkan melalui verba menulis
dimana hubungan verba menulis dengan objeknya, misal: surat, mempunyai hubungan hasil).
-
galian ,dalam arti ‘hasil
menggali (dituturkan melalui verba menggali ,dimana hubungan verba menggali
dengan objeknya misal sumur,mempunyai hubungan hasil)
v Nomina
bersufiks –an
yang
dibentuk dari dasar melalui verba berprefiks me-
inflektif memiliki makna gramatikal ‘yang di- (dasar)’ apabila hubungan antara
verba me- inflektif yang dibentuk dari dasar itu dengan objeknya menyatakan
‘sasaran’, seperti nomina makanan, bacaan dan tahanan dalam
kalimat-kalimat berikut.
-
makanan dilemari sudah tidak tersisa lagi
-
bahan bacaan tersedia lengkap
-
tahanan polisi itu berhasil melarikan diri
v Nomina
bersufiks –an
yang
dibentuk dari dasar melalui verba berprefiks me-
inflektif memiliki makna gramatikal ‘alat (me-)’ apabila verba berprefiks me-yang
dilaluinya memiliki komponen makna (+ alat), seperti nomina Saringan (dari
verba menyaring).Ayakan (dari verba
mengayak).dan kukusan (dari verba mengukus)dalam kalimat-kalimat berikut:
-
mobil ini mogok karena saringan bensinya tersumbat
-
ayakan pasir ini sudah tidak bisa digunakan lagi
v Nomina
bersufiks –an
yang
dibentuk dari dasar melalui verba berprefiks ber- memiliki makna
gramatikal ‘tempat ber (dasar)’. Misalnya, nomina kubangan, tepian
dan pangkalan pada kalimat-kalimat berikut:
-
Lubang-lubang di jalan itu ada yang sebesar kubangan
kerba
(kubang berarti ‘tempat berkubang’).
-
Mereka berdagang di tepian sungai
(tepian berarti ‘tempat yang
bertepi’).
v Nomina
Bersufiks –an
yang
dibentuk dari dasar langsung memiliki makna gramatikal:
1.
Tiap-tiap.
2.
Banyak (dasar).
3.
Bersifat (dasar).
ü Nomina bersufik
–an yang dibentuk langsung dari dasar akan mempunyai makna gramatikal
‘tiap-tiap’ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ ukuran) atau (+
takaran), seperti: nomina bulanan, literan dan meteran.
ü Nomina bersufiks
–an yang dibentuk langsung dari dasar akan mempunyai makna gramatikal
‘banyak (dasar)’ apabila bentuk dasanya memiliki komponen makna (+ bandaan) dan (+kecil), seperti
nomina ubanan, kutuan, dan jamuran.
ü Nomina bersufiks
–an yang dibentuk langsung dari dasar akan mempunya makna gramatikal
‘bersifat (dasar)’ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ keadaan). Seperti nomina murahan,
asinan, manisan.
v Nomina Bersufiks -nya
pertama-tama
perlu dicatat dulu adanya dua bentuk
-nya,yaitu pertama,-nya sebagai promina persona ketiga tunggal,seperti
dalam kalimat
-
saya mau minta tolong kepadanya
kedua
,-nya sebagai sufiks seperti terdapat
pada kata-kata naiknya, turunya, dan mahalnya.
Sebagai
sufiks –nya membentuk nomina dengan makna gramatikal:
1)
Hal (dasar).
2)
Penegasan.
v Nomina bersufiks –nya
memiliki
makna gramatikal ‘hal’ kalau bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ keadaan),
seperti kata-kata naiknya, mahalnya, dan luasnya.
v Nomina bersufiks –nya
memiliki
makna gramatikal ‘penegasan’ kalau bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+
bendaan) atau (+tindakan), seperti kata-kata
nasinya, airnya, pulangnya dan datangnya.
v Nomina Berprefiks ter-
Nomina
berprefiks ter- dengan makna gramatikal ‘yang di- (dasar)’ hanya terdapat sebagai istilah dalam bidang hukum.
Nomina tersebut adalah tersangka, terperiksa,
terdakwa, tergugat, tertuduh, terhukum, dan terpidana.
v Nomina Berprefiks –el-, -em-, dan,
-er-
Infiksasi
dalam bahasa indonesia sudah tidak produktif lagi. Artinya, tidak digunakan lagi untuk membentuk
kata-kata baru. Nomina berprefiks yang ada adalah:
-
Telapak
tapak
-
Telunjuk
tunjuk
-
gemetar getar
v Nomina Bersufiks Asing
Dalam
berkembangnya bahasa indonesia banyak menyerap kosakata asing, terutama dari bahasa Arab, Inggris,
dan Belanda. Artinya kosakata itu diserap sekaligus
dengan “sufiks” yang menjadi penanda kategori kata serapan itu. “sufiks” penanda kelas atau kategori nomina, antara
lain:
ü In
pada
kata
hadirin
muslimin
muhajirin
Dengan makna gramatikal ‘laki-laki
yang (dasar)’.
ü At
pada
kata
hadirat
muslihat
mukminat
dengan makna gramatikal
‘perempuan yang (dasar)
ü ah
pada kata gairah
hafizah
dengan
makna gramatikal ‘perempuan yang (dasar)
v
Dasar Ajektiva Berafiks Asli Indonesia
Sudah disebutkan di atas
adanya buku atau literatur yang menyatakan adanya ketumpangtindihan kata-kata
berkelas ajektiva dengan kelas lain, seperti kelas nomina dan verba.
Berikut kita bicarakan
kata-kata berafiks apa saja yang bertumpah tindih itu.
v
Dasar Adjektiva Berprefiks pe-
Ada dua macam proses pembubuhan prefiks pe- pada dasar adjektiva. Yaitu, pertama yang diimbuhkan secara langsung dan kedua diimbuhkan melalui verba berafiks me-kan.
Ada dua macam proses pembubuhan prefiks pe- pada dasar adjektiva. Yaitu, pertama yang diimbuhkan secara langsung dan kedua diimbuhkan melalui verba berafiks me-kan.
(1) Dasar + pe-
pe-dasar
(2) Dasar me-dasar-kan + pe- pe-dasar
Pemberian afiks pe- secara
langsung dapat terjadi kalau dasar adjektiva itu memiliki komponen makna (+ sikap batin) dan memberi makna gramatikal ‘yang memiliki
sifat (dasar)’.
Misalnya:
-
pemalu
-
pemarah
-
penakut
Pemberian
prefiks pe-melalui verba berklofiks me-kan dapat terjadi apabila dasar adjektiva itu memiliki
komponen makna (+keadaan fisik) dan memberi makna gramatikal ‘yang menjadikan (dasar)’. Misalnya:
-
pembersih
-
pemutih
-
pengering
v Dasar Adjektiva Berprefiks se-
Pemberian
prefiks se- pada semua dasar adjektiva memberi maakna gramatikal ‘sama (dasar)’ dengan nomina yang
mengikutinya. Misalnya:
-
sepintar A’sama pintar dengan A’
-
secantik B’sama cantik dengan B’
-
setinggi C’sama tinggi denganC’
Dasar adjektiva dengan prefiks se-
bukanlah berkategori adjektiva sebab tidak dapat diawali adverbia agak dan sangat.Bentuk agak sepintar dan sangat sepintar.Tidak berterima.Prefiks se- pada
dasar adjektiva bertugas membentuk tingkat perbandingan ‘sama’ atau sederajat dalam satu system penderajatan. Contoh:
-
Setinggi →
sama tinggi → tingkat sama
-
(tinggian)
→lebih tinggi → tingkat lebih
v Dasar Adjetiva bersufik –an
pemberian
sufiks-an pada semua dasar ajektiva memberi makna gramatikal ‘lebih (dasar)pada
nomina yang mengikutinya,contoh
-
pintaran a ‘lebih pintar a’
-
mahalan b”lebih mahal b”
v Dasar
Adjektiva Berprefiks ter-
Pengimbuhan prefiks ter- paa
semua dasar adjektiva memberi makna gramatikal ‘paling (dasar)’. Misalnya:
-
Tercantik, “paling cantik”
-
Terbodoh, “paling bodoh”
-
Tertinggi ,’paling tinggi”
Kata-kata
yang bentuk dasarnya ajektiva dengan prefiks ter-tidaklah termasuk berkategori adjektiva, melainkan
berkategori verba, bentuk seperti agak termahal dan sangat termahal tidak berterima.
Prefiks
ter- pada dasar ajektiva bertugas membentuk tingkat perbandingan superlatif dalam suatu sistem
penderajatan. perhatikan
-
(setinggi) => sama
tinggi => tinggi sama
-
(tinggian) => lebih
tinggi => tinggi lebih
v Dasar Adjektiva Berkonfiks ke-an
Pengimbuhan
konfiks ke-an pada dasar adjektiva akan memberi makna gramatikal ‘agak (dasar)’
bila adjektiva itu memiliki komponen makna (+warna). Misalnya:
-
Kehitaman, “agak hitam”.
-
Kemerahan, “agak merah”
-
Kebiruan ,”agak biru”
Makna
gramatikal ‘terlalu (dasar)’ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ warna), (+ rasa)
atau (+ukuran). Misalnya:
-
Kekecilan, “terlalu kecil”
-
Kekenyangan, “terlalu kenyang”
-
Keasinan “terlalu asin”
Bermakna
gramatikal ‘hal (dasar)’ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ sikap batin). Misalnya:
-
Ketakutan, “hal takut”
-
Kesedihan, “hal sedih”
-
Kekecewaan”hal kecewa
v Dasar Ajektiva Berklofiks me-kan
Dasar ajektiva berklofiks me-kan memiliki
makna gramatikal “menyebabkan jadi
(dasar)” apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ sifat batin).
Misalnya:
·
Memalukan, “menyebabkan malu”.
·
Mengecewakan, “menyebabkan kecewa”
·
Menakutkan”menyebabkan takut”
Dasar
ajektiva dengan klofiks me-kan sesungguhnya berkategori ganda, yakni ajektiva dan verba. Sebagai kategori
ajektiva dia dapat didahului oleh adverbia agak dan sangat; dan sebagai verba dapat diikuti oleh sebuah objek. jadi,bentuk-bentuk
atau konstruksi –konstruksi berikut adalah berterima:
-
agak memalukan orang banyak
sangat memalukan orang banyak
-
agak menakutkan anak –anak
sangat menakutkan anak-anak
v Dasar Ajektiva Berklofiks me-i
Dasar ajektiva berklofiks me-i memiliki makna
gramatikal “merasa (dasar) pada” apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ rasa batin). Misalnya:
-
Mencintai, “merasa cinta pada”
-
Mengagumi, “merasa kagum pada”
-
menyenangi”merasa senang pada”.
Dasar
ajektiva dengan klofiks me-i ini sesungguhnya berkategori ganda, yaitu ajektiva dan verba. Sebagai kategori
ajektiva dia dapat didahului oleh adverbia agak dan sangat; dan sebagai verba verba dapat diikuti oleh sebuah
objek.
v Dasar Lain Berkomponen Makna (+
keadaan)
pada
bagian pengantar bab ini sudah dikemukakan bahwa kosakata berkategori ajektiva
dalam bahasa Indonesia sudah merupakan “barang jadi”. Namun, yang disebut
“barang jadi” ini ada yang seratus persen berkategori ajektiva itu memiliki
pula komponen makna (+ bendaan) atau (+ tindakan). Misalnya, merah dan kuning
memiliki juga komponen makna (+ bendaan), sehingga
keduanya bisa disahului negasi bukan dan tidak. Bentu-bentuk bukan merah dan tidak merah sama-sama berterima.
Ajektiva marah dan benci juga memiliki komponen makna (+ tindakan).
Sebaliknya
nomina untung dan rugi juga memiliki komponen makna (+ keadaan), sehingga keduanya sama-sama dapat diberi negasi bukan
dan tidak. Jadi, bentuk-bentuk bukan
untung, bukan rugi, tidak untung dan tidak rugi sama-sama berterima. Dengan demikian bentuk turunan
beruntung bisa disebut berkategori ajektiva.
Kata turunan merugikan bisa disebut berkategori verba juga bisa termasuk ketegori ajektiva.
v Pembentukan Ajektiva dengan “Afiks”
Serapan
Menurut
buku Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) dan buku Pedoman Pembentukan Istila (PPI),
penyerapan kata dari bahasa asing dilakukan
secara utuh, bukan terpisah antara dasar dengan afiksnya. Jadi, disamping kita menyerap kata standarditition
menjadi standardisasi (-ditition disesuaikan menjadi
-disasi). Begitupun di samping kita menyerap kata object menjadi objek, kita menyerap kata objektive menjadi
objektive.
ü Kata
serapan dari bahasa Inggris dan Belanda
Kata
serapan dari bahasa Inggris dan Belanda yang berkategori ajektif dapat kita kenali dari “akhiran” (dalam tanda
petik”, seperti”
-
if, misalnya: aktif, pasif, objektif, edukatif,
konsultatif, administratif, kolektif, primituf, dan konsumtif.
-
ik, misalnya: patriotik, akademik,
mekanik, pluralistik, kritik, dan heroik.
-
is,misalnya:teknis,akademis,kronologis
ü Kata
serapan dari bahasa Arab
Kata
serapan dari bahasa Arab yang berkategori ajektiva dapat kita kenali dari “akhiran”
(dalam tanda petik”, antara lain:
-
i, misalnya: rohani, jasmani, islami,
abadi, qurani, dan madani.
-
iah, misalnya: islamiah, alamiah,
jasmaniah, rohaniah, abadiah, dan quraniah.
-
wi misal:duniawi,ukhrawi ,nabawi,surgawi,masusiawidan
kimiawi
Tampaknya
“akhiran” unsur serapan, baik Inggris/Belanda maupun Arab tidak produktif untuk pembentukan kata dalam
bahasa Indonesia, buak hanya untuk pembentukan
verba, tetapi juga untuk pembentukan kategori yang lain. Sejauh ini kata-kata (dari dasar asli Indonesia) yang
telah dibentuk dengan akhiran serapan itu hanyalah
pancasilais, surgawi, manusiawi, kimiawi, sukuisme, daerahisme, tendanisasi, dan lelenisasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar