REDUPLIKASI
Menurut Abdul Chaer (2008:178),
reduplikasi atau pengulangan bentuk satuan
kebahasaan merupakan gejala yang terdapat dalam banyak bahasa di dunia ini.Dalam bahasa indonesia reduplikasi merupakan mekanisme yang penting dalam pembentukan kata, di samping afiksasi, komposisi, dan akronimisasi. Meskipun reduplikasi terutama adalah masalah morfologi, masalah pembentukan kata, tetapi ada pula reduplikasi yang menyangkut masalah fonologi, masalah sintaksis, dan masalah semantik.
1. Reduplikasi Fonologis
Reduplikasi fonologis berlangsung terhadap dasar yang bukan bukan akar atau terhadap bentuk yang statusnya lebih tinggi dari akar, status yang diulang tidak jelas dan reduplikasi fonologis ini tidak menghasilkan makna gramatikal, melainkan menghasilkan makna leksikal.Yang termasuk reduplikasi fonologis adalah bentuk-bentuk seperti(Abdul Chaer,2008:179):
a. kuku, dada, pipi, cincin dan sisi. Bentuk-bentuk tersebut bukan berasal dari da, pi, ku,
dan cin. Jadi, bentuk-bentuk tersebut adalah sebuah kata yang bunyi kedua suku katanya sama.
b. foya-foya, tubi-tubi, sema-sema, anai-anai, ani-ani. Bentuk-bentuk ini memang jelas
termasuk bentuk pengulangan yang diulang secara utuh. Akan tetapi, bentuk dasarnya tidak berstatus sebagai akar yang mandiri.
c. laba-laba, kupu-kupu, paru-paru, dan onde-onde. Bentuk-bentuk ini juga merupakan
pengulangan yang diulang secara utuh. Akan tetapi, hasil reduplikasinya tidak melahirkan makna gramatikal, melainkan menghasilkan makna leksikal.
d. mondar-mandir, luntang-lantung, kocar-kacir, dan teka-teki. Bentuk-bentuk ini tidak
diketahui mana yang menjadi bentuk dasar pengulangannya. Selain itu, maknanya pun
hanya makna leksikal, bukan makna gramatikal
2. Reduplikasi Sintaksis
Reduplikasi sintaksis adalah proses pengulangan terhadap sebuah dasar yang biasanya
berupa akar, tetapi menghasilkan satuan bahasa yang statusnya lebih tinggi daripada sebuah kata.
Contohnya adalah : Jangan jangan kau dekati pemuda itu (Abdul Chaer 2008 : 179-180).
3. Reduplikasi Semantis
Reduplikasi semantis adalah pengulangan “makna” yang sama dari dua buah kata yang
bersinonim. Misalnya, ilmu pengetahuan, alim ulama dan cerdik cendekia. Selain itu, bentuk-
bentuk seperti segar bugar, kering mersik, muda belia, tua renta, dan gelap gulita menurut
Abdul Chaer juga termasuk dalam reduplikasi semantis. Akan tetapi, bentuk-bentuk seperti ini dalam berbagai buku tata bahasa dimasukkan dalam kelompok reduplikasi berubah bunyi.
(Abdul Chaer 2008 : 180)
4. Reduplikasi Morfologis
Reduplikasi morfologis dapat terjadi pada bentuk dasar yang berupa akar, berupa bentuk
berafiks, dan berupa bentuk komposisi. Prosesnya dapat berupa pengulangan utuh, pengulangan
sebagian, maupun pengulangan berubah bunyi.
a. Pengulangan Akar
1) Pengulanga utuh, artinya pengulangan bentuk dasar tanpa melakukan perubahan
bentuk fisik dari akar itu. Misalnya, meja-meja (bentuk dasar meja), sungguh-sungguh (bentuk dasar sungguh), makan-makan (bentuk dasar makan), dan tinggi-tinggi (bentuk dasar tinggi).
2) Pengulangan sebagian, artinya pengulangan bentuk dasar yang hanya salah satu suku
katanya saja yang diulang, dalam hal ini suku awal kata, disertai dengan“pelemahan” bunyi. Misalnya tetangga (bentuk dasar tangga), leluhur (bentuk dasar luhur), lelaki (bentuk dasar laki), dan jejari (bentuk dasar jari).
3) Pengulangan dengan perubahan bunyi, artinya Pengulangan dengan perubahan bunyi
(dwilingga salin suara) adalah pengulangan bentuk dasar tetapi disertai dengan
perubahan bunyi. Yang berubah bisa bunyi vokalnya bisa pula bunyi konsonannya.
Contohnya adalah bolak-balik, corat-coret, ramah-tamah, lauk-pauk.
4) Pengulangan dengan infiks, maksudnya sebuah akar diulang tetapi diberi infiks pada
unsur ulangannya. Contoh : turun-temurun, tali-temal (Abdul Chaer,2008:181).
b. Pengulangan Dasar Berafiks
Ada tiga macam proses afiksasi dalam reduplikasi.Pertama, sebuah akar diberi afiks dahulu, kemudian direduplikasi. Misalnya, pada akar lihat mula-mula diberi prefiks me- menjadi melihat, kemudian baru diulang menjadi bentukmelihat-melihat.Kedua, sebuah akar direduplikasi dahulu, baru kemudian diberi afiks. Misalnya, akar jalan mula-mula diulang menjadi jalan-jalan, baru kemudian diberi prefiks ber- menjadi berjalan-jalan.Ketiga, sebuah akar diberi afiks dan diulang secara bersamaan. Misalnya, pada akar minggu diberi prefiks ber- dan proses pengulangan sekaligus menjadi bentuk berminggu-minggu (AbdulChaer,2008:189).
c. Reduplikasi kompositum
Reduplikasi terhadap dasar kompositum dilakukan dalam dua cara:
a) Reduplikasi Secara Utuh
1. Reduplikasi secara utuh dilakukan terhadap yang kedua unsurnya sederajat.
2. Reduplikasi secara utuh dilakukan terhadap yang kedua unsurnya tidak sederajat
tetapi memiliki makna idiomatikal.
Contoh: - ayam itik-ayam itik
- kasur bantal-kasur bantal
Bentuk-bentuk diatas direduplikasikan secara utuh karena kedua unsurnya membentuk
satu kesatuan makna.
kebahasaan merupakan gejala yang terdapat dalam banyak bahasa di dunia ini.Dalam bahasa indonesia reduplikasi merupakan mekanisme yang penting dalam pembentukan kata, di samping afiksasi, komposisi, dan akronimisasi. Meskipun reduplikasi terutama adalah masalah morfologi, masalah pembentukan kata, tetapi ada pula reduplikasi yang menyangkut masalah fonologi, masalah sintaksis, dan masalah semantik.
1. Reduplikasi Fonologis
Reduplikasi fonologis berlangsung terhadap dasar yang bukan bukan akar atau terhadap bentuk yang statusnya lebih tinggi dari akar, status yang diulang tidak jelas dan reduplikasi fonologis ini tidak menghasilkan makna gramatikal, melainkan menghasilkan makna leksikal.Yang termasuk reduplikasi fonologis adalah bentuk-bentuk seperti(Abdul Chaer,2008:179):
a. kuku, dada, pipi, cincin dan sisi. Bentuk-bentuk tersebut bukan berasal dari da, pi, ku,
dan cin. Jadi, bentuk-bentuk tersebut adalah sebuah kata yang bunyi kedua suku katanya sama.
b. foya-foya, tubi-tubi, sema-sema, anai-anai, ani-ani. Bentuk-bentuk ini memang jelas
termasuk bentuk pengulangan yang diulang secara utuh. Akan tetapi, bentuk dasarnya tidak berstatus sebagai akar yang mandiri.
c. laba-laba, kupu-kupu, paru-paru, dan onde-onde. Bentuk-bentuk ini juga merupakan
pengulangan yang diulang secara utuh. Akan tetapi, hasil reduplikasinya tidak melahirkan makna gramatikal, melainkan menghasilkan makna leksikal.
d. mondar-mandir, luntang-lantung, kocar-kacir, dan teka-teki. Bentuk-bentuk ini tidak
diketahui mana yang menjadi bentuk dasar pengulangannya. Selain itu, maknanya pun
hanya makna leksikal, bukan makna gramatikal
2. Reduplikasi Sintaksis
Reduplikasi sintaksis adalah proses pengulangan terhadap sebuah dasar yang biasanya
berupa akar, tetapi menghasilkan satuan bahasa yang statusnya lebih tinggi daripada sebuah kata.
Contohnya adalah : Jangan jangan kau dekati pemuda itu (Abdul Chaer 2008 : 179-180).
3. Reduplikasi Semantis
Reduplikasi semantis adalah pengulangan “makna” yang sama dari dua buah kata yang
bersinonim. Misalnya, ilmu pengetahuan, alim ulama dan cerdik cendekia. Selain itu, bentuk-
bentuk seperti segar bugar, kering mersik, muda belia, tua renta, dan gelap gulita menurut
Abdul Chaer juga termasuk dalam reduplikasi semantis. Akan tetapi, bentuk-bentuk seperti ini dalam berbagai buku tata bahasa dimasukkan dalam kelompok reduplikasi berubah bunyi.
(Abdul Chaer 2008 : 180)
4. Reduplikasi Morfologis
Reduplikasi morfologis dapat terjadi pada bentuk dasar yang berupa akar, berupa bentuk
berafiks, dan berupa bentuk komposisi. Prosesnya dapat berupa pengulangan utuh, pengulangan
sebagian, maupun pengulangan berubah bunyi.
a. Pengulangan Akar
1) Pengulanga utuh, artinya pengulangan bentuk dasar tanpa melakukan perubahan
bentuk fisik dari akar itu. Misalnya, meja-meja (bentuk dasar meja), sungguh-sungguh (bentuk dasar sungguh), makan-makan (bentuk dasar makan), dan tinggi-tinggi (bentuk dasar tinggi).
2) Pengulangan sebagian, artinya pengulangan bentuk dasar yang hanya salah satu suku
katanya saja yang diulang, dalam hal ini suku awal kata, disertai dengan“pelemahan” bunyi. Misalnya tetangga (bentuk dasar tangga), leluhur (bentuk dasar luhur), lelaki (bentuk dasar laki), dan jejari (bentuk dasar jari).
3) Pengulangan dengan perubahan bunyi, artinya Pengulangan dengan perubahan bunyi
(dwilingga salin suara) adalah pengulangan bentuk dasar tetapi disertai dengan
perubahan bunyi. Yang berubah bisa bunyi vokalnya bisa pula bunyi konsonannya.
Contohnya adalah bolak-balik, corat-coret, ramah-tamah, lauk-pauk.
4) Pengulangan dengan infiks, maksudnya sebuah akar diulang tetapi diberi infiks pada
unsur ulangannya. Contoh : turun-temurun, tali-temal (Abdul Chaer,2008:181).
b. Pengulangan Dasar Berafiks
Ada tiga macam proses afiksasi dalam reduplikasi.Pertama, sebuah akar diberi afiks dahulu, kemudian direduplikasi. Misalnya, pada akar lihat mula-mula diberi prefiks me- menjadi melihat, kemudian baru diulang menjadi bentukmelihat-melihat.Kedua, sebuah akar direduplikasi dahulu, baru kemudian diberi afiks. Misalnya, akar jalan mula-mula diulang menjadi jalan-jalan, baru kemudian diberi prefiks ber- menjadi berjalan-jalan.Ketiga, sebuah akar diberi afiks dan diulang secara bersamaan. Misalnya, pada akar minggu diberi prefiks ber- dan proses pengulangan sekaligus menjadi bentuk berminggu-minggu (AbdulChaer,2008:189).
c. Reduplikasi kompositum
Reduplikasi terhadap dasar kompositum dilakukan dalam dua cara:
a) Reduplikasi Secara Utuh
1. Reduplikasi secara utuh dilakukan terhadap yang kedua unsurnya sederajat.
2. Reduplikasi secara utuh dilakukan terhadap yang kedua unsurnya tidak sederajat
tetapi memiliki makna idiomatikal.
Contoh: - ayam itik-ayam itik
- kasur bantal-kasur bantal
Bentuk-bentuk diatas direduplikasikan secara utuh karena kedua unsurnya membentuk
satu kesatuan makna.
b)
Reduplikasi Secara Sebagian
Reduplikasi secara sebagian dilakukan terhadap kompositum yang kedua unsurnya tidak
sederajat dan tidak bermakna idiomatikal(Abdul Chaer, 2008 :189– 191)..
Contoh: - surat-surat kabar
- buku-buku agama
Bentuk-bentuk di atas diulang hanya sebagian karena kedua unsurnya tidak memiliki
makna idiomatikal. Kedua unsurnya membangun makna gramatikal
5. Reduplikasi Dasar Nomina
Reduplikasi dasar nomina, secara morfologis nomina dapat berbentuk akar. Dasar nomina
bila direduplikasikan antara lain, akan melahirkan makna gramatikal yang menyatakan :
- Banyak
- Banyak dan bermacam-macam
- Banyak dengan ukuran tertentu
- Menyerupai atau seperti
- Saat atau waktu
Bentuk dasar dan bentuk reduplikasi yang melahirkan makna gramatikal (Abdul Chaer 2008 : 191-193). :
1. Dasar nomina, baik berupa akar, bentuk berprefiks pe-, prefiks ke-, konfiks pe-an,
konfiks per–an, konfiks ke–an, sufiks–an, dan berupa gabungan kata apabila direduplikasikan akan memiliki makna gramatikal ‘banyak‘ kalau memiliki komponen
makna (+ terhitung). Misalnya : Pemda akan menggusur rumah-rumah tanpa IMB itu.
2. Dasar nomina khususnya dalam bentuk akar bila direduplikasikan akan memiliki makna
gramatikal ‘banyak dan bermacam-macam‘ apabila memiliki komponen makna (+
berjenis). Misalnya : dulu di daerah pasar minggu banyak buah-buahan.
3. Dasar nomina khususnya dalam bentuk dasar direduplikasikan akan memiliki makna
gramatikal ‘banyak dengan satuan ukuran tertentu‘ apabila memiliki komponen makna (+
ukuran) atau (+ takaran). Misalnya : Kami sudah berhari-hari belum makan.
4. Dasar nomina khususnya dalam bentuk akar bila direduplikasikan akan memiliki makna
gramatikal ‘menyerupai‘ atau ‘seperti‘ apabila memiliki komponen makna (+ bentuk
tertentu) atau (+ sifat tertentu). Misalnya : Adik menangis minta dibelikan mobil-mobilan.
5. Dasar nomina khususnya dalam bentuk akar bila direduplikasikan akan memiliki makna
gramatikal ‘ saat ‘ atau ‘ waktu ‘apabila memiliki komponen makna (+ saat). Misalnya :
Pagi – pagi sekali dia sudah pergi bekerja
6. Reduplikasi Dasar Verba
Bentuk dasar dan makna reduplikasi yang terjadi pada dasar verba ini (Abdul Chaer 2008 : 194-196:
a. Dasar verba apabila direduplikasikan akan memiliki makna gramatikal ‘kejadian berulang
kali‘ apabila dasar itu memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (- durasi). Misalnya :
Dari tadi beliau marah-marah terus.
Reduplikasi secara sebagian dilakukan terhadap kompositum yang kedua unsurnya tidak
sederajat dan tidak bermakna idiomatikal(Abdul Chaer, 2008 :189– 191)..
Contoh: - surat-surat kabar
- buku-buku agama
Bentuk-bentuk di atas diulang hanya sebagian karena kedua unsurnya tidak memiliki
makna idiomatikal. Kedua unsurnya membangun makna gramatikal
5. Reduplikasi Dasar Nomina
Reduplikasi dasar nomina, secara morfologis nomina dapat berbentuk akar. Dasar nomina
bila direduplikasikan antara lain, akan melahirkan makna gramatikal yang menyatakan :
- Banyak
- Banyak dan bermacam-macam
- Banyak dengan ukuran tertentu
- Menyerupai atau seperti
- Saat atau waktu
Bentuk dasar dan bentuk reduplikasi yang melahirkan makna gramatikal (Abdul Chaer 2008 : 191-193). :
1. Dasar nomina, baik berupa akar, bentuk berprefiks pe-, prefiks ke-, konfiks pe-an,
konfiks per–an, konfiks ke–an, sufiks–an, dan berupa gabungan kata apabila direduplikasikan akan memiliki makna gramatikal ‘banyak‘ kalau memiliki komponen
makna (+ terhitung). Misalnya : Pemda akan menggusur rumah-rumah tanpa IMB itu.
2. Dasar nomina khususnya dalam bentuk akar bila direduplikasikan akan memiliki makna
gramatikal ‘banyak dan bermacam-macam‘ apabila memiliki komponen makna (+
berjenis). Misalnya : dulu di daerah pasar minggu banyak buah-buahan.
3. Dasar nomina khususnya dalam bentuk dasar direduplikasikan akan memiliki makna
gramatikal ‘banyak dengan satuan ukuran tertentu‘ apabila memiliki komponen makna (+
ukuran) atau (+ takaran). Misalnya : Kami sudah berhari-hari belum makan.
4. Dasar nomina khususnya dalam bentuk akar bila direduplikasikan akan memiliki makna
gramatikal ‘menyerupai‘ atau ‘seperti‘ apabila memiliki komponen makna (+ bentuk
tertentu) atau (+ sifat tertentu). Misalnya : Adik menangis minta dibelikan mobil-mobilan.
5. Dasar nomina khususnya dalam bentuk akar bila direduplikasikan akan memiliki makna
gramatikal ‘ saat ‘ atau ‘ waktu ‘apabila memiliki komponen makna (+ saat). Misalnya :
Pagi – pagi sekali dia sudah pergi bekerja
6. Reduplikasi Dasar Verba
Bentuk dasar dan makna reduplikasi yang terjadi pada dasar verba ini (Abdul Chaer 2008 : 194-196:
a. Dasar verba apabila direduplikasikan akan memiliki makna gramatikal ‘kejadian berulang
kali‘ apabila dasar itu memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (- durasi). Misalnya :
Dari tadi beliau marah-marah terus.
b. Dasar
verba apabila direduplikasikan akan memiliki makna gramatikal ‘Kejadian
berintensitas‘ apabila dasar itu memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ durasi).
Misalnya : Mereka berlari-lari di halaman sekolah.
c. Dasar verba apabila direduplikasikan akan memiliki makna gramatikal ‘berbalasan‘
apabila dasar itu memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (- durasi) serta dalam
bentuk berprefiks me-regresif. Misalnya : Kita tidak boleh salah-menyalahkan dulu.
d. Dasar verba apabila direduplikasikan akan memiliki makna gramatikal ‘dilakukan tanpa
tujuan ( dasar )’ apabila dasar itu memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ durasi).
Misalnya : Mari kita duduk-duduk di taman depan.
e. Dasar verba apabila direduplikasikan akan memiliki makna gramatikal ‘hal me……’
apabila dasar itu memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ durasi) serta dalam
bentuk reduplikasi berprefiks me- regresif. Misalnya : Menerima pekerjaan ketik-mengetik.
f. Dasar verba apabila direduplikasikan akan memiliki makna gramatikal ‘begitu (dasar)‘
apabila dasar itu memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ saat). Misalnya : Saya
tidak sadar, tahu- tahu dia sudah berada didepanku).
7. Reduplikasi Dasar Ajektifa
Reduplikasi dasar ajektifa, makna gramatikal yang dapat dihasilkan dalam proses
reduplikasi terhadap dasar ajektifa ini ialah banyak yang (dasar), se (dasar) mungkin, hanya yang(dasar), sedikit bersifat (dasar), meskipun (dasar), semua (dasar) dengan, dan intensitas (AbdulChaer,2008:196).
Bentuk reduplikasi dan makna gramatikal yang terjadi pada dasar ajektifa ini (Abdul Chaer 2008:197:
a. Dasar ajektifa apabila direduplikasikan akan menghasilkan makna gramatikal ‘banyak
yang dasar‘ jika bentuk dasar memiliki komponen makna (+ keadaan) dan (+ ukuran).
Misalnya : Pohon-pohon di hutan itu besar-besar.
b. Dasar ajektifa apabila direduplikasikan akan menghasilkan makna gramatikal ‘se (dasar)
mungkin‘ jika bentuk dasar memiliki komponen makna (+ keadaan) dan (+ ukuran).
Misalnya : Buang jauh-jauh pikiran seperti itu.
c. Dasar ajektifa apabila direduplikasikan akan menghasilkan makna gramatikal ‘hanya
yang (dasar)‘ jika bentuk dasar memiliki komponen makna (+ keadaan) dan (+ ukuran).
Misalnya : Kumpulkan buah itu yang besar-besar saja.
d. Dasar ajektifa apabila direduplikasikan akan menghasilkan makna gramatikal ‘sedikit
bersifat (dasar)‘ jika bentuk dasar memiliki komponen makna (+ keadaan) dan (+ warna).
Misalnya : Dari jauh air laut tampak kebiru-biruan.
e. Dasar ajektifa apabila direduplikasikan akan menghasilkan makna gramatikal ‘meskipun
(dasar)‘ jika bentuk dasar memiliki komponen makna (+keadaan) dan (+sikap). Misalnya
: Kecil-kecil berani dia melawan preman itu.
f. Dasar ajektifa apabila direduplikasikan akan menghasilkan makna gramatikal ‘sama
(dasar) dengan‘ jika bentuk dasar memiliki komponen makna (+keadaan) dan (+ukuran ).
Misalnya : Nyamuk di situ segede – gede lalat hijau.
g. Dasar ajektifa apabila direduplikasikan akan menghasilkan makna gramatikal ‘intensitas‘
jika bentuk dasar memiliki komponen makna (+keadaan) dan (+ukuran). Misalnya :
Janganlah kamu melemah-lemahkan semangat dia.
8. Reduplikasi Dasar Kelas Tertutup
Yang termasuk kelas tertutup adalah kata-kata yang termasuk dalam kelas adverbia,
pronomina, numeralia, konjungsi, artikulus, dan interjeksi. Kata-kata yang termasuk dalam kelas tertutup ini pun ada yang mengalami proses reduplikasi (Abdul Chaer 2008:199-208).:
a. Reduplikasi Dasar Adverbia Negasi
Kosakata adverbia negasi adalah bukan, tidak, tak, dan tiada. Yang terlibat dalam proses
reduplikasi hanyalah bukan dan tidak, bentuk tak dan tiada tidak terlibat dalam proses itu.
Misalnya : Di sini kamu jangan bicara yang bukan – bukan.
b. Reduplikasi Dasar Adverbia Larangan
Kosakata adverbia larangan adalah jangan dan tidak boleh. Yang berkenaan dengan
reduplikasi hanyalah akar jangan seperti tampak dalam kalimat : Mari kita segera pulang,
jangan-jangan ayah sudah di rumah.
c. Reduplikasi Dasar Adverbia Kala
Kosakata adverbia kala adalah kata-kata sudah dan telah untuk menyatakan kata lampau ;
sedang, tengah, dan lagi untuk menyatakan kala kini ; akan dan mau untuk menyatakan kala
yang akan datang. Sebagai adverbia kala yang terlibat dalam proses reduplikasi sudah dan
akan, seperti tampak dalam kalimat : Kalau mengingat yang sudah – sudah kami memang
kasihan kepadanya.
d. Reduplikasi Dasar Adverbia Keharusan
Kosakata adverbia keharusan adalah barangkali, kali, dan mungkin yang menyatakan
kemungkinan ; mesti, harus, dan wajib yang menyatakan keharusan ; mau, ingin, dan hendak
yang menyatakan keinginan ; dan boleh yang menyatakan kebolehan. Sebagai adverbia
keharusan yang terlibat dalam reduplikasi hanyalah kali, mau, dan boleh. Seperti pada kalimat
: Jangan bekerja semau-maunya saja.
e. Reduplikasi Dasar Adverbia Jumlah
Kosakata adverbia jumlah ada banyak, sedikit, lebih, kurang, dan cukup. Semuanya
terlibat dalam proses reduplikasi. Seperti pada kalimat berikut : Beri dia minum sedikit-
sedikit.
f. Reduplikasi Dasar Adverbia Taraf
Kosakata adverbia taraf adalah agak, sangat, amat, sekali, sedang, kurang, dan paling.
Yang terlibat dalam proses reduplikasi hanyalah agak dan paling. Seperti dalam kalimat
berikut : Harus dihitung yang benar, jangan mengagak-agak saja.
berintensitas‘ apabila dasar itu memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ durasi).
Misalnya : Mereka berlari-lari di halaman sekolah.
c. Dasar verba apabila direduplikasikan akan memiliki makna gramatikal ‘berbalasan‘
apabila dasar itu memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (- durasi) serta dalam
bentuk berprefiks me-regresif. Misalnya : Kita tidak boleh salah-menyalahkan dulu.
d. Dasar verba apabila direduplikasikan akan memiliki makna gramatikal ‘dilakukan tanpa
tujuan ( dasar )’ apabila dasar itu memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ durasi).
Misalnya : Mari kita duduk-duduk di taman depan.
e. Dasar verba apabila direduplikasikan akan memiliki makna gramatikal ‘hal me……’
apabila dasar itu memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ durasi) serta dalam
bentuk reduplikasi berprefiks me- regresif. Misalnya : Menerima pekerjaan ketik-mengetik.
f. Dasar verba apabila direduplikasikan akan memiliki makna gramatikal ‘begitu (dasar)‘
apabila dasar itu memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ saat). Misalnya : Saya
tidak sadar, tahu- tahu dia sudah berada didepanku).
7. Reduplikasi Dasar Ajektifa
Reduplikasi dasar ajektifa, makna gramatikal yang dapat dihasilkan dalam proses
reduplikasi terhadap dasar ajektifa ini ialah banyak yang (dasar), se (dasar) mungkin, hanya yang(dasar), sedikit bersifat (dasar), meskipun (dasar), semua (dasar) dengan, dan intensitas (AbdulChaer,2008:196).
Bentuk reduplikasi dan makna gramatikal yang terjadi pada dasar ajektifa ini (Abdul Chaer 2008:197:
a. Dasar ajektifa apabila direduplikasikan akan menghasilkan makna gramatikal ‘banyak
yang dasar‘ jika bentuk dasar memiliki komponen makna (+ keadaan) dan (+ ukuran).
Misalnya : Pohon-pohon di hutan itu besar-besar.
b. Dasar ajektifa apabila direduplikasikan akan menghasilkan makna gramatikal ‘se (dasar)
mungkin‘ jika bentuk dasar memiliki komponen makna (+ keadaan) dan (+ ukuran).
Misalnya : Buang jauh-jauh pikiran seperti itu.
c. Dasar ajektifa apabila direduplikasikan akan menghasilkan makna gramatikal ‘hanya
yang (dasar)‘ jika bentuk dasar memiliki komponen makna (+ keadaan) dan (+ ukuran).
Misalnya : Kumpulkan buah itu yang besar-besar saja.
d. Dasar ajektifa apabila direduplikasikan akan menghasilkan makna gramatikal ‘sedikit
bersifat (dasar)‘ jika bentuk dasar memiliki komponen makna (+ keadaan) dan (+ warna).
Misalnya : Dari jauh air laut tampak kebiru-biruan.
e. Dasar ajektifa apabila direduplikasikan akan menghasilkan makna gramatikal ‘meskipun
(dasar)‘ jika bentuk dasar memiliki komponen makna (+keadaan) dan (+sikap). Misalnya
: Kecil-kecil berani dia melawan preman itu.
f. Dasar ajektifa apabila direduplikasikan akan menghasilkan makna gramatikal ‘sama
(dasar) dengan‘ jika bentuk dasar memiliki komponen makna (+keadaan) dan (+ukuran ).
Misalnya : Nyamuk di situ segede – gede lalat hijau.
g. Dasar ajektifa apabila direduplikasikan akan menghasilkan makna gramatikal ‘intensitas‘
jika bentuk dasar memiliki komponen makna (+keadaan) dan (+ukuran). Misalnya :
Janganlah kamu melemah-lemahkan semangat dia.
8. Reduplikasi Dasar Kelas Tertutup
Yang termasuk kelas tertutup adalah kata-kata yang termasuk dalam kelas adverbia,
pronomina, numeralia, konjungsi, artikulus, dan interjeksi. Kata-kata yang termasuk dalam kelas tertutup ini pun ada yang mengalami proses reduplikasi (Abdul Chaer 2008:199-208).:
a. Reduplikasi Dasar Adverbia Negasi
Kosakata adverbia negasi adalah bukan, tidak, tak, dan tiada. Yang terlibat dalam proses
reduplikasi hanyalah bukan dan tidak, bentuk tak dan tiada tidak terlibat dalam proses itu.
Misalnya : Di sini kamu jangan bicara yang bukan – bukan.
b. Reduplikasi Dasar Adverbia Larangan
Kosakata adverbia larangan adalah jangan dan tidak boleh. Yang berkenaan dengan
reduplikasi hanyalah akar jangan seperti tampak dalam kalimat : Mari kita segera pulang,
jangan-jangan ayah sudah di rumah.
c. Reduplikasi Dasar Adverbia Kala
Kosakata adverbia kala adalah kata-kata sudah dan telah untuk menyatakan kata lampau ;
sedang, tengah, dan lagi untuk menyatakan kala kini ; akan dan mau untuk menyatakan kala
yang akan datang. Sebagai adverbia kala yang terlibat dalam proses reduplikasi sudah dan
akan, seperti tampak dalam kalimat : Kalau mengingat yang sudah – sudah kami memang
kasihan kepadanya.
d. Reduplikasi Dasar Adverbia Keharusan
Kosakata adverbia keharusan adalah barangkali, kali, dan mungkin yang menyatakan
kemungkinan ; mesti, harus, dan wajib yang menyatakan keharusan ; mau, ingin, dan hendak
yang menyatakan keinginan ; dan boleh yang menyatakan kebolehan. Sebagai adverbia
keharusan yang terlibat dalam reduplikasi hanyalah kali, mau, dan boleh. Seperti pada kalimat
: Jangan bekerja semau-maunya saja.
e. Reduplikasi Dasar Adverbia Jumlah
Kosakata adverbia jumlah ada banyak, sedikit, lebih, kurang, dan cukup. Semuanya
terlibat dalam proses reduplikasi. Seperti pada kalimat berikut : Beri dia minum sedikit-
sedikit.
f. Reduplikasi Dasar Adverbia Taraf
Kosakata adverbia taraf adalah agak, sangat, amat, sekali, sedang, kurang, dan paling.
Yang terlibat dalam proses reduplikasi hanyalah agak dan paling. Seperti dalam kalimat
berikut : Harus dihitung yang benar, jangan mengagak-agak saja.
g. Reduplikasi
Dasar Adverbia Frekuensi
Kosakata adverbia frekuensi adalah sekali, jarang, sering, dan lagi. Semuanya terlibat
dalam proses reduplikasi. Seperti dalam kalimat : Sekali-sekali dia datang juga ke sini.
h. Reduplikasi Dasar Numeralia
Kosakata numeralia yang terlibat dalam reduplikasi adalah nama-nama bilangan bulat
juga bilangan seperti sepertiga, setengah, seperempat, dan sebagainya. Contoh : Anak-anak itu dibariskan dua-dua.
i. Reduplikasi Dasar Konjungsi Koordinatif
Kosakata konjungsi koordinatif adalah dan yang menyatakan ‘gabungan‘; serta yang
menyatakan ‘kesertaan‘; tetapi, namun dan melainkan yang menyatakan ‘kebalikan‘; bahkan
dan malah (an) yang menyatakan ‘penguatan‘; kemudian, setelah, sesudah, dan lalu yang
menyatakan ‘hubungan waktu‘. Semuanya tidak ada yang terlibat dalam proses reduplikasi.
Memang ada bentuk lalu-lalu seperti : Kita tidak perlu mengingat lagi kejadian yang lalu-lalu.
j. Reduplikasi Dasar Konjungsi Subordinatif
Kosakata konjungsi subordinatif adalah karena, sebab, asal, dan lantaran yang menyatakan ‘sebab‘; kalau, jika, jikalau, andai, andaikata, dan seandainya yang menyatakan‘persyaratan‘; meski (pun), biar (pun), walau (pun), kendati (pun) yang menyatakan‘penguatan‘; hingga, sehingga, dan sampai yang menyatakan ‘batas‘; dan kecuali yang menyatakan ‘perkecualian‘. Namun yang terlibat dalam proses reduplikasi hanyalah kalau,andai, dan sampai. Seperti dalam kalimat: Mari kita ke kebun, kalau-kalau ada durian jatuh
Kosakata adverbia frekuensi adalah sekali, jarang, sering, dan lagi. Semuanya terlibat
dalam proses reduplikasi. Seperti dalam kalimat : Sekali-sekali dia datang juga ke sini.
h. Reduplikasi Dasar Numeralia
Kosakata numeralia yang terlibat dalam reduplikasi adalah nama-nama bilangan bulat
juga bilangan seperti sepertiga, setengah, seperempat, dan sebagainya. Contoh : Anak-anak itu dibariskan dua-dua.
i. Reduplikasi Dasar Konjungsi Koordinatif
Kosakata konjungsi koordinatif adalah dan yang menyatakan ‘gabungan‘; serta yang
menyatakan ‘kesertaan‘; tetapi, namun dan melainkan yang menyatakan ‘kebalikan‘; bahkan
dan malah (an) yang menyatakan ‘penguatan‘; kemudian, setelah, sesudah, dan lalu yang
menyatakan ‘hubungan waktu‘. Semuanya tidak ada yang terlibat dalam proses reduplikasi.
Memang ada bentuk lalu-lalu seperti : Kita tidak perlu mengingat lagi kejadian yang lalu-lalu.
j. Reduplikasi Dasar Konjungsi Subordinatif
Kosakata konjungsi subordinatif adalah karena, sebab, asal, dan lantaran yang menyatakan ‘sebab‘; kalau, jika, jikalau, andai, andaikata, dan seandainya yang menyatakan‘persyaratan‘; meski (pun), biar (pun), walau (pun), kendati (pun) yang menyatakan‘penguatan‘; hingga, sehingga, dan sampai yang menyatakan ‘batas‘; dan kecuali yang menyatakan ‘perkecualian‘. Namun yang terlibat dalam proses reduplikasi hanyalah kalau,andai, dan sampai. Seperti dalam kalimat: Mari kita ke kebun, kalau-kalau ada durian jatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar