Minggu, 29 Januari 2017

klasifikasi morfem



KLASIFIKASI MORFEM

A.    Morfem Bebas dan Morfem Terikat
Menurut Abdul Chaer,2008,17 bahwa morfem bebas adalah morfem yang tanpa keterkaitannya dengan dengan morfem lain dapat langsung digunakan dalam pertuturan. Misal, morfem {pulang}, {merah}, dan {pergi}.
Morfem terikat adalah morfem yang harus terlebih dahulu bergabung dengan morfem lain untuk untuk dapat digunakan dalam sebuah pertuturan. Misal, seperti {henti}, {juang}, dan {geletak}.
Misalnya {juang}, pejuang menjadi pejuang, berjuang, dan daya juang.henti harus digabung dulu dengan afiks tertentu seperti menjadi berhenti, penghentian, dan menghentikan. Berkenaan dengan bentuk dasar terikat perlu di kemukakan cacatan sebagai berikut:
a)      Bentuk pertama, dasar seperti juang, henti, gaul, dan baur juga termasuk morfem terikat, karena bentuk-bentuk tersebut belum memiliki kategori, meskipun bukan afiks, tidak dapat muncul dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi, seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi.
b)      Bentuk kedua, seperti ini lazim disebut bentuk prakategorial (lihat Verhaar 1978). Sehubungan istilah prakategorial di atas, menurut konsep Verhaar (1978) bentuk-bentuk seperti baca, tulis, dan tendang juga termasuk bentuk prakategorial, karena bentuk-bentuk tersebut baru merupakan “pangkal” kata, sehingga baru bisa muncul dalam pertuturan sesudah mengalami proses morfologi.
c)      Bentuk ketiga, seperti renta (yang hanya muncul dalam tua renta), kerontang (yang hanya muncul dalam kering kerontang), dan kuyup (yang hanya muncul dalam basah kuyup) juga termasuk morfem terikat. Lalu, karena hanya bisa muncul dalam pasangan tertentu, maka bentuk-bentuk tersebut disebut juga morfem unik.
d)      Bentuk keempat, yang termasuk preposisi dan konjungsi, seperti ke, dari, pada, dan, kalau, dan atau secara morfologis termasuk morfem bebas, tetapi secara sintaksis merupakan bentuk terikat.
e)      Klitika merupakan morfem yang agak sukar ditentukan statusnya, apakah terikat atau bebas. Klitika adalah bentuk-bentuk singkat, biasanya hanya satu silabel, secara fonologis tidak mendapat tekanan, kemunculannya dalam pertuturan selalu melekat pada bentuk lain, tetapi dapat dipisahkan. Menurut posisinya, klitika biasanya dibedakan atas proklitika dan enklitika. Yang dimaksud dengan proklitika adalah klitika yang berposisi di muka kata yang diikuti, seperti ku dan kau pada konstruksi kubawa dan kuambil. Sedangkan enklitika adalah klitika yang berposisi di belakang kata yang dilekati, seperti lah, -nya, dan -ku pada konstruksi dialah, duduknya, dan nasibku.
f)       Bentuk-bentuk yang oleh Kridalaksana (1989) disebut proleksem, seperti a (pada asusila), dwi (pada dwibahasa), dan ko (pada kopilot) juga termasuk morfem terikat.

B.     Morfem Utuh dan Morfem Terbagi
Perbedaan morfem utuh dan morfem terbagi berdasarkan bentuk formal yang dimiliki morfem tersebut, apakah merupakan satu kesatuan yang utuh atau merupakan dua bagian yang terpisah atau terbagi, karena disisipi morfem lain. Sedangkan morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah. Umpamanya pada kata Indonesia kesatuan terdapat satu morfem utuh, yaitu {satu} dan satu morfem terbagi, yakni {ke-/-an}. Sehubungan dengan morfem terbagi ini, untuk bahasa Indonesia.
Namun, mengenai morfem terbagi; tetap pada bentuk ber-an ada yang berupa konfiks dan yang bukan konfiks misal, ber-an pada kata berpakaian dalam kalimat “sebelum berpakaian ia mandi dulu” bukan konfiks yang dalam buku ini disebeut klofiks (akronim dari kelmpok klofiks); tetapi ber-an pada kata bermunculan pada kalimat “penyanyi baru yang bermunculan pada ahun-tahun ini”.
C.     Morfem Segmental dan Suprasegmental
Perbedaan morfem segmental dan morfem suprasegmental berdasarkan jenis fonem yang membentuknya. Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem {lihat}, {lah}, {sikat}, dan {ber}. Jadi, semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental. Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental, seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya. Misalnya, dalam bahasa Ngbaka di Kongo Utara di Benua Afrika, setiap verba selalu disertai dengan penunjuk kala (tense) yang berupa nada.
D.    Morfem Beralomorf Zero/Nol
Dalam linguistik deskriptif ada konsep mengenai morfem beralomorf zero atau nol (lambangnya berupa Ø), yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmental), melainkan berupa “kekosongan”.
Morfem Beralomorf Zero Dalam linguistik deskriptif ada konsep mengenai morfem beralomorf zero atau nol (lambangnya berupa Ø), yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmental), melainkan berupa “kekosongan”.
E.     Morfem Bermakna Leksikal Dan Tak Bermakna Leksikal
Sebuah morfem disebut bermakna leksikal karena di dalam dirinya, secara inheren, telah memiliki makna. Semua morfem dasar bebas, seperti {makan}, {pulang} dan {pergi} termasuk morfem bermakana leksikal. Kalau morfem tak bermakna leksikal seperti morfem afiks seperti {ber-}, {ke-} dan {ter-}.

Morfem Dasar, Pangkal, dan Akal
   Morfem dasar, bentuk dasar (lebih umum dasar (base) saja), pangkal (stem), dan akar (root) dan leksem adalah lima istilah yang biasa digunakan dalam kajian morfologi. Namun, seringkali digunakan dengan pengertian yang kurang cermat, atau malah berbeda. Oleh karena itu, sejalan dengan usaha yang dilakukan oleh Lyons (1977:513) dan Matthews (1972:165 dan 1974:40,73).
   Sebuah morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk dasar atau dasar (base) dalam suatu proses morfologi. Artinya, dapat diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi, dapat diulang dalam proses reduplikasi, atau bisa digabung dengan morfem lain dalam suatu proses komposisi atau pemajemukan.
   Istilah bentuk dasar atau dasar (base) saja biasanya digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi. Bentuk dasar ini dapat berupa morfem tunggal, tetapi dapat juga berupa gabungan morfem. Contoh pada kata berbicara yang terdiri dari morfem ber- dan bicara, maka bicara adalah menjadi bentuk dasar dari kata berbicara itu, yang kebetulan juga berupa morfem dasar.
   Dalam bahasa Inggris kata books bentuk dasarnya adalah book, dan kata singers bentuk dasarnya adalah singer, sedangkan kata singer itu sendiri bentuk dasarnya adalah sing. Istilah pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi, atau proses pembubuhan afiks inflektif. Contoh bentuk inflektif kita ambil dari bahasa Inggris. Pada kata books pangkalnya adalah book. Dalam bahasa Indonesia kata me-nangisi bentuk pangkalnya adalah tangisi, dan morfem me- adalah sebuah afiks inflektif.
   Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Artinya, akar itu adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiksnya, baik afiks infleksional maupun afiks deverensionalnya ditanggalkan. Misalnya, kata Inggris untouchables akarnya adalah touch.
   Istilah leksem ada digunakan dalam dua bidang kajian linguistik yaitu bidang kajian lingusitik yaitu bidang morfologi dan semantik. Dalam kajian morfologi leksem digunakan untuk mewadahi konsep “bentuk yang akan menjadi kata” melalui proses morfologi.
   Proses pembentukan kata untouchables itu adalah: mula-mula pada akar touch dilekatkan sufiks able menjadi touchable, lalu, dilekatkan prefiks un- menjadi untouchable, dan akhirnya, diimbuhkan sufiks -s sehingga menjadi untouchables. Perlu diketengahkan adanya tiga macam morfem dasar bahasa Indonesia dilihat dari status atau potensinya dalam proses gramatika yang dapat terjadi pada morfem dasar itu seperti berikut:
1.      Pertama, adalah morfem dasar bebas, yakni morfem dasar yang secara potensial dapat langsung menjadi kata, sehingga langsung dapat digunakan dalam ujaran. Misalnya, morfem {meja}, {kursi}, dan {pergi}. Namun, disini pun ada derajat kebebasan yang lebih rendah dari morfem-morfem seperti {meja} di atas.
2.      Kedua, morfem dasar yang kebebasannya dipersoalkan. Yang termasuk ini adalah sejumlah morfem berakar verba, yang dalam kalimat imperative atau kalimat sisipan, tidak perlu diberi imbuhan, dan dalam kalimat deklaratif imbuhannya dapat ditanggalkan. Verhaar (1978) memasukkannya ke dalam kelompok prakategorial, tetapi dalam naskah lain yang belum diterbitkan disebutnya bentuk pradasar. Kedalam kelompok ini termasuk morfem-morfem seperti {-ajar}, {-tulis}, dan {-lihat}.

3.      Ketiga, morfem dasar terikat, yakni morfem dasar yang tidak mempunyai potensi untuk menjadi kata tanpa terlebih dahulu mendapat proses morfologi. Misalnya, morfem {juang}. Ke dalam kelompok ketiga ini dapat dimasukkan juga sejumlah morfem yang hanya dapat muncul pada pasangan tetap, seperti renta (yang hanya muncul pada tua renta), kerontang ( yang hanya muncul pada kering kerontang), dan kuyup (yang hanya muncul pada basah kuyup)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar