KLASIFIKASI MORFEM
A.
Morfem Bebas
dan Morfem Terikat
Menurut Abdul
Chaer,2008,17 bahwa morfem bebas adalah morfem yang tanpa keterkaitannya dengan
dengan morfem lain dapat langsung digunakan dalam pertuturan. Misal, morfem
{pulang}, {merah}, dan {pergi}.
Morfem
terikat adalah morfem yang harus terlebih dahulu bergabung dengan morfem lain
untuk untuk dapat digunakan dalam sebuah pertuturan. Misal, seperti {henti},
{juang}, dan {geletak}.
Misalnya
{juang}, pejuang menjadi pejuang, berjuang, dan daya
juang.henti harus digabung dulu dengan afiks tertentu seperti menjadi berhenti,
penghentian, dan menghentikan. Berkenaan dengan bentuk dasar terikat
perlu di kemukakan cacatan sebagai berikut:
a)
Bentuk
pertama, dasar seperti juang, henti, gaul, dan baur juga termasuk morfem
terikat, karena bentuk-bentuk tersebut belum memiliki kategori, meskipun bukan
afiks, tidak dapat muncul dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu mengalami
proses morfologi, seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi.
b)
Bentuk
kedua, seperti ini lazim disebut bentuk prakategorial (lihat Verhaar 1978).
Sehubungan istilah prakategorial di atas, menurut konsep Verhaar (1978)
bentuk-bentuk seperti baca, tulis, dan tendang juga termasuk bentuk
prakategorial, karena bentuk-bentuk tersebut baru merupakan “pangkal” kata,
sehingga baru bisa muncul dalam pertuturan sesudah mengalami proses morfologi.
c)
Bentuk
ketiga, seperti renta (yang hanya muncul dalam tua renta), kerontang (yang
hanya muncul dalam kering kerontang), dan kuyup (yang hanya muncul dalam basah
kuyup) juga termasuk morfem terikat. Lalu, karena hanya bisa muncul dalam
pasangan tertentu, maka bentuk-bentuk tersebut disebut juga morfem unik.
d)
Bentuk
keempat, yang termasuk preposisi dan konjungsi, seperti ke, dari, pada, dan,
kalau, dan atau secara morfologis termasuk morfem bebas, tetapi secara
sintaksis merupakan bentuk terikat.
e)
Klitika
merupakan morfem yang agak sukar ditentukan statusnya, apakah terikat atau
bebas. Klitika adalah bentuk-bentuk singkat, biasanya hanya satu silabel,
secara fonologis tidak mendapat tekanan, kemunculannya dalam pertuturan selalu
melekat pada bentuk lain, tetapi dapat dipisahkan. Menurut posisinya, klitika
biasanya dibedakan atas proklitika dan enklitika. Yang dimaksud dengan
proklitika adalah klitika yang berposisi di muka kata yang diikuti, seperti ku
dan kau pada konstruksi kubawa dan kuambil. Sedangkan enklitika adalah klitika
yang berposisi di belakang kata yang dilekati, seperti lah, -nya, dan -ku pada
konstruksi dialah, duduknya, dan nasibku.
f)
Bentuk-bentuk
yang oleh Kridalaksana (1989) disebut proleksem, seperti a (pada asusila), dwi
(pada dwibahasa), dan ko (pada kopilot) juga termasuk morfem terikat.
B.
Morfem Utuh
dan Morfem Terbagi
Perbedaan
morfem utuh dan morfem terbagi berdasarkan bentuk formal yang dimiliki morfem
tersebut, apakah merupakan satu kesatuan yang utuh atau merupakan dua bagian
yang terpisah atau terbagi, karena disisipi morfem lain. Sedangkan morfem
terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah.
Umpamanya pada kata Indonesia kesatuan terdapat satu morfem utuh, yaitu {satu}
dan satu morfem terbagi, yakni {ke-/-an}. Sehubungan dengan morfem terbagi ini,
untuk bahasa Indonesia.
Namun,
mengenai morfem terbagi; tetap pada bentuk ber-an ada yang berupa
konfiks dan yang bukan konfiks misal, ber-an pada kata berpakaian
dalam kalimat “sebelum berpakaian ia mandi dulu” bukan konfiks yang dalam buku
ini disebeut klofiks (akronim dari kelmpok klofiks); tetapi ber-an
pada kata bermunculan pada kalimat “penyanyi baru yang bermunculan
pada ahun-tahun ini”.
C.
Morfem
Segmental dan Suprasegmental
Perbedaan
morfem segmental dan morfem suprasegmental berdasarkan jenis fonem yang
membentuknya. Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem
segmental, seperti morfem {lihat}, {lah}, {sikat}, dan {ber}. Jadi, semua
morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental. Sedangkan morfem suprasegmental
adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental, seperti tekanan,
nada, durasi, dan sebagainya. Misalnya, dalam bahasa Ngbaka di Kongo Utara di
Benua Afrika, setiap verba selalu disertai dengan penunjuk kala (tense) yang
berupa nada.
D.
Morfem
Beralomorf Zero/Nol
Dalam
linguistik deskriptif ada konsep mengenai morfem beralomorf zero atau nol
(lambangnya berupa Ø), yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud
bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmental), melainkan berupa
“kekosongan”.
Morfem
Beralomorf Zero Dalam linguistik deskriptif ada konsep mengenai morfem
beralomorf zero atau nol (lambangnya berupa Ø), yaitu morfem yang salah satu
alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmental),
melainkan berupa “kekosongan”.
E.
Morfem
Bermakna Leksikal Dan Tak Bermakna Leksikal
Sebuah
morfem disebut bermakna leksikal karena di dalam dirinya, secara inheren, telah
memiliki makna. Semua morfem dasar bebas, seperti {makan}, {pulang} dan {pergi}
termasuk morfem bermakana leksikal. Kalau morfem tak bermakna leksikal seperti
morfem afiks seperti {ber-}, {ke-} dan {ter-}.
Morfem
Dasar, Pangkal, dan Akal
Morfem dasar, bentuk dasar (lebih umum dasar (base) saja),
pangkal (stem), dan akar (root) dan leksem adalah lima istilah yang biasa
digunakan dalam kajian morfologi. Namun, seringkali digunakan dengan pengertian
yang kurang cermat, atau malah berbeda. Oleh karena itu, sejalan dengan usaha
yang dilakukan oleh Lyons (1977:513) dan Matthews (1972:165 dan 1974:40,73).
Sebuah morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk dasar atau
dasar (base) dalam suatu proses morfologi. Artinya, dapat diberi afiks tertentu
dalam proses afiksasi, dapat diulang dalam proses reduplikasi, atau bisa
digabung dengan morfem lain dalam suatu proses komposisi atau pemajemukan.
Istilah bentuk dasar atau dasar (base) saja biasanya digunakan
untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi.
Bentuk dasar ini dapat berupa morfem tunggal, tetapi dapat juga berupa gabungan
morfem. Contoh pada kata berbicara yang terdiri dari morfem ber- dan bicara,
maka bicara adalah menjadi bentuk dasar dari kata berbicara itu, yang kebetulan
juga berupa morfem dasar.
Dalam bahasa Inggris kata books bentuk dasarnya adalah book,
dan kata singers bentuk dasarnya adalah singer, sedangkan kata singer itu
sendiri bentuk dasarnya adalah sing. Istilah pangkal (stem) digunakan untuk
menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi, atau proses pembubuhan afiks
inflektif. Contoh bentuk inflektif kita ambil dari bahasa Inggris. Pada kata
books pangkalnya adalah book. Dalam bahasa Indonesia kata me-nangisi bentuk
pangkalnya adalah tangisi, dan morfem me- adalah sebuah afiks inflektif.
Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat
dianalisis lebih jauh lagi. Artinya, akar itu adalah bentuk yang tersisa
setelah semua afiksnya, baik afiks infleksional maupun afiks deverensionalnya
ditanggalkan. Misalnya, kata Inggris untouchables akarnya adalah touch.
Istilah leksem ada digunakan dalam dua bidang kajian
linguistik yaitu bidang kajian lingusitik yaitu bidang morfologi dan semantik.
Dalam kajian morfologi leksem digunakan untuk mewadahi konsep “bentuk yang akan
menjadi kata” melalui proses morfologi.
Proses pembentukan kata untouchables itu adalah: mula-mula
pada akar touch dilekatkan sufiks able menjadi touchable, lalu, dilekatkan
prefiks un- menjadi untouchable, dan akhirnya, diimbuhkan sufiks -s sehingga
menjadi untouchables. Perlu diketengahkan adanya tiga macam morfem dasar bahasa
Indonesia dilihat dari status atau potensinya dalam proses gramatika yang dapat
terjadi pada morfem dasar itu seperti berikut:
1. Pertama,
adalah morfem dasar bebas, yakni morfem dasar yang secara potensial dapat
langsung menjadi kata, sehingga langsung dapat digunakan dalam ujaran.
Misalnya, morfem {meja}, {kursi}, dan {pergi}. Namun, disini pun ada derajat
kebebasan yang lebih rendah dari morfem-morfem seperti {meja} di atas.
2. Kedua,
morfem dasar yang kebebasannya dipersoalkan. Yang termasuk ini adalah sejumlah
morfem berakar verba, yang dalam kalimat imperative atau kalimat sisipan, tidak
perlu diberi imbuhan, dan dalam kalimat deklaratif imbuhannya dapat
ditanggalkan. Verhaar (1978) memasukkannya ke dalam kelompok prakategorial,
tetapi dalam naskah lain yang belum diterbitkan disebutnya bentuk pradasar.
Kedalam kelompok ini termasuk morfem-morfem seperti {-ajar}, {-tulis}, dan
{-lihat}.
3. Ketiga,
morfem dasar terikat, yakni morfem dasar yang tidak mempunyai potensi untuk
menjadi kata tanpa terlebih dahulu mendapat proses morfologi. Misalnya, morfem
{juang}. Ke dalam kelompok ketiga ini dapat dimasukkan juga sejumlah morfem
yang hanya dapat muncul pada pasangan tetap, seperti renta (yang hanya muncul
pada tua renta), kerontang ( yang hanya muncul pada kering kerontang), dan
kuyup (yang hanya muncul pada basah kuyup)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar