Selasa, 24 Januari 2017

konversi,akrominasi dan penyerapan



KONVERSI, AKRONIMISASI DAN PENYERAPAN

       Selain proses afiksasi, reduplikasi dan komposisi, masih ada proses lain dalam pembentukan kata bahasa Indonesia. Proses lain itu adalah konfersi, akronimisasi dan penyerapan. Namun, kalau ketiga proses yang lama betul-betul merupakan mekanisme gramatikal, sedangkan ketigayang terakhir tidak seluruhnya merupakan masalah gramatikal, karena prosesnya tidak mudah di kaidahkan dan juga produktifitasnya sangat rendah(Abdul Chaer, 2008: 235).

1.       Proses Konversi

          Konversi lazim juga disebut derivasi zero, transmutasi, atau transposisi adalah proses pembentukan kata dari sebuah dasar berkategori tertentu menjadi kata berkategori lain, tanpa mengubah bentuk fisik dari dasar itu. Misalnya, kata cangkul dalam kalimat(1) adalah berkategori nomina, tetapi pada kalimat(2) adalah berkategori verba(Abdul Chaer, 2008: 235).

(1)             Petani membawa cangkul ke sawah.
(2)             Cangkul dulu tanah itu, baru ditanami.

          Jadi dalam kalimat (1) yang bermodus deklaratif kata cangkul berkategori nimina; sedangkan pada kalimat (2) yang bermodus imperative kata cangkul berkategori ferba. Penyebab sebuah nimina tanpa perubahan fisik menjadi sebuah verba, walaupun dalam modus kalimat yang berbeda adalah kata cangkul, dan sejumlah kata lainnya disamping memiliki komponrn makna (+ bendaan) juga memiliki komponen makna (+ alat) dan(+tindakan). Komponen makna (+tindakan) inilah yang menyebabkan kata cangkul itu adalam kalimat interatif menjadi berkategori verbal. Hal ini berbeda dengan kata pisau yang memiliki komponen makna(+bendaan), (+alat) dan(- tindakan). Ketiadaan komponen makna (+tindakan) pada kata pisau iru tidak bisa digunakan sebagai verba dalam kalimat imperative.

Jumlah kosakata nomina yang memiliki komponen makna (+tindakan) sangat terbatas. Diantaranya;
Kunci  
kikir                
Gergaji                
Rantai                  
Tutup                   
Kail                     
Pancing   
Silet                     
Amplas
Sikat
Pacul
Kupas
Ketam
Kapak
Serut
borgor               

          Ada satu permasalahan lagi didalam berbagai buku pelajaran dan buku tata bahasa kata-kata nama warna seperti merah,hijau dan kuning.digolongkan berkategori ajektifa. Didalam kamus besar. Didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata-kata seperti merah, hijau dan kuning disebut mempunyai dua kategori yaitu ajektifa dan nomina karena secara empiris warna-warna itu dapat “diamati”. Hal ini menjadi indikator bahwa nama-nama warna itu berkate gori nomina.

2.     Akronimisasi

Akronimisasi adalah proses pembentukan sebuah kata dengan cara menyingkat sebuah konsep yang di realisasikan dalam sebuah konstruksi lebih dari sebuah kata. Proses ini menghasilkan sebuah kata yang disebut akronim. Akronim adalah juga sebuah singkatan, namun yang”diperlakukan” sebagai sebuah kata atau sebuah butir leksikal. Misal’ya kata pilkada yang berasal dari pemilihan kepala daerah, kata jabotabek yang berasal dari Jakarta bogor, Tanggerang dan Bekasi dan kata Balita yang berasal dari bawah lima tahun(Abdul Chaer, 2008: 235-236).

   Aturan atau kaidah pembentukan akronim “belum” ada aturan tertentu yang digunakan . namun, dari data yang terkumpul yampak ada cara-cara sebagai berikut;

1.      Pertama, mengambil huruf-huruf (fonem-fonem) pertama dari kata-kata yang membentuk konsep itu, Misalnya:

IKIP              : institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
IDI                : Ikatan Dokter Indonesia
ABRI                        :Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

2.      Kedua, pengambilan suku kata pertama dari semua kata yang membentuk konsep itu. Misalnya :

Rukan                       : rumah kantor
Balita                        : bawah lima tahun
Orpol             : organisasi politi

3.      Ketiga, pengambilan suku kata pertama ditambah dengan huruf pertama dari suku kata kedua dari setiap kata yang membentuk konsep itu. Misalnya :
Warteg          : warung tegal 
Depkes          : departemen kesehatan
Kalbar                       : Kalimantan Barat

4.      Keempat, pengambilan suku kata yang dominain dari setiap kata yang mewadahi konsep itu. Misalnya:

Juklak           : petunjuk pelaksanaan
Tilang           : bukti pelanggaran
Litbang         : penelitian dan pengembangan

5.      Kelima, pengambilan suku kata tertentu disertai dengan modifikasi yang tampaknya tidak beraturan, namun masih dengan memperhatikan ”keindahan” bunyi. Misalnya :  

 Pilkada            : pemilihan kepala daerah
 Organda          : organisasi angkutan darat
 Kloter             : kelompok terbang


6.      Keenam, pengambilan unsur – unsur kata yang mewadahi konsep itu, tetapi sukar disebutkan  keteraturannya termasuk di seni. Misalnya:

      Sinetron           : sinema elektronik
      Insert             : informasi selebritis
      Satpam            : satuan pengamanan

       Kata – kata yang dibentuk sebagai hasil proses akronimisasi ini terdapat dalam semua bidang kegiatan dan keilmuan, seperti kepolosian, kemiliteran, pendidikan, olahraga, ekonomo, kesenian, dan sebagainya. Biasanya akronim itu hanya dipahami oleh mereka yang berkecimpung dalam bidang kegiatan tertentu itu. Misalnya, dalam salah satu instansi depdiknas ada akronim dupak (daftar usulan perhitungan angka kredit), yang hanya dipahami oleh orang – orang instansi tersebut.

Namun, tidak sedikit akronim bahasa Indonesia yang telah menjadi kosakata umum, seperti muntaber, wagub. Pemda, lemhanas, hansip, dirjen, dan sebagainya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993) akronim yang telah menjadi kosakata umum ini didaftarkan sebagai singkatan. 

2.       Penyerapan

     Penyerapan adalah proses pengambilan kosakata dari bahasa asing, baik bahasa Eropa (Belanda, Inggris, Arab,Portugis, dan sebagainya), maupun bahasa asing Asia (seperti bahasa Arab, bahasa Parsi, bahasa Sansekerta, bahasa Cina, dan lain sebagainya). Termasuk dari bahasa – bahasa Nusantara ( seperti bahasa Jawa, Sunda, Minang, Bali, dan sebagainya).

Didalam sejarahnya penyerapan kosakata asing berlangsung secara audial, artinya melalui pendengaran. Contohnya seperti orang asing mengucapkan kosakata asing, lalu orang Indonesia menirukan nya sesui dengan apa yang didengarnya. Karena system Fonologi bahasa asing itu berbeda dengan system Fonologi bahasa yang dimiliki orang Indonesia, maka bunyi uajaran bahasa asing ditiru menurut kemampuan lidah melafalkannya. Begitulah kata bahasa Belanda dome krack dilafalkan menjandi dongkrak, kata bahasa Sansekerta uttpatti dilafalkan menjadi upeti, kata bahasa Arab mudharat dilafalkan menjadi melarat, dan kata bahasa Portugis almari dilafalkan menjadi lemari.

Penyerapan kata – kata asing secara audial ini berlangsung lama, dan telah menghasilkan kata –kata yang banyak jumlahnya, yang kadang – kadang sudah tidak diketahui lagi dari mana asalnya. Kita misalnya, tidak tau lagi dari mana asalnya kata – kata berikut: surge, neraka, kuman, kertas, waktu, pahala, bandit, jendela, dan sebagainya.

Sejak terbit buku Pedoman Pembentukan Istilah dan buku Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, penyerapan kata – kata asing harus dilakuakan secara visual. Artinya berdasarkan apa yangdilihat didalam tulisan. Intinya dari pedoman pembentukan istilah itu adalah:
Pertama, kata – kata yang sudah diserap dan lazim digunakan sebelum buku pedoman ini terbit, tidak perlu diubah ejaanya. Misalnya kata – kata kabar, sirsak, telepon, iklan, perlu, bengkel, hadir, dan badan.

Kedua, penyerapan dilakukan secara utuh. Misalnya kata standarisasi, efektifitas, objektifitas, dan implementasi diserap secara utuh disamping kata standar, efektif, objektif, dan implement.
Ketiga, huruf –huruf asing pada awal harus disesuaikan sebagai berikut:

au tetap au
audiogram                               audiogram
 

e dimuka a, u, o dan konsonan menjadi k
            calomel                                    kalomel

c dimuka e, l, dan y menjadi s
            central                                     sentral

cc dimuka o,u dan konsonan menjadi k
            accommodation                       akomodasi

cc dimuka e da I menjadi ks
            saccharin                                 sakarin

ch yang lafalnya s atau sy menjadi s 
            echelon                                    eselon

ch yang lafalnya c menjadi c
            check                                       cek

e tetap e
            effect                                       efek
           
ea tetap ea
            idealist                                     idealis

eo tetap eo
            stereo                                       stereo

f tetap f
            fanatic                                                 fanatik

i pada awal suku kata di muka vocal tetap i
            ion                                           ion

ie (Belanda) jika dilafalkan i menjadi i
            politiek                                    politik


ie jika lafalnya i tetap ie
            variety                                     varietas

ng tetap ng
            contingent                               kontingen

 oo menjadi u
            cartoon                                    kartun

ou jika dilafalnya u menjadi u
            coupon                                    kupon

ph menjadi f
            phase                                       fase

q menjadi k
            aquarium                                 akuarium

rh menjadi r
            rhetoric                                    retorika

sc dimuka a, o,u dan konsonan menjadi sk
            scandium                                 skandium

sc dimuka e, i, dan y menjadi s
            scnography                              senografi

sch dimuka vocal menjadi sk
            schema                                    skema

t dimuka i menjadi s jika dilafalnya s
            ratio                                         rasio

th menjadi t
            theocracy                                 teokrasi

uu menjadi u
            vacuum                                    vakum
v tetap v
            vitamin                                    vitamin
           
x pada awal kata tetap x
            xenon                                      xenon

x pada posisi lain menjadi ks
            taxsi                                         taksi
           
            executive                                 eksekutif

xc di muka e dan I menjadi ks
            exception                                 eksepsi
           

xc dimuka a, o, u, dan konsonan menjadi ksk
            excavation                               ekskavasi

y menjadi y jika lafalnya y
            yen                                          yen
           
y menjadi i jika lafalnya i
            dynamo                                   dynamo
           
z menjadi z
            zenith                                      zenith

keempat, huruf pada akhir kata harus disesuaikan sebagai berikut:

-age menjadi –ase
            Percentage                               persentase
           
-aal, -eel menjadi –al
            Structural, structureel              struktural 

-ant menjadi –an
            Accountant                                                                 akuntan
                     
-archy, -archie, menjadi – arki
            Anarchy, anarchie                                           anarki
           
-ary, -air, menjadi –er
            Secondary, secundair                                      sekunder

-(a)tion,-(a)tie menjasi –asi, -si
            Action, actie                            aksi
          
-ic,-ics, -que-, -que, -iek, -ica, menjadi –ik, -ika
            Logic, logica                           logika
           
-ic,-isch menjadi – ik
            Electronic, elektronisch           elektronik

-ical, -isch menjadi –is
            Economical, economishch       ekonomis
           
-ism, -isme, menjadi –isme
            Modernism, modernism          modernism
           
-ist menjadi –is
            Egoist                                      egoist
           

-ive,-ief menjadi –if
            Descriptive, descriptiief           deskriptif

-logue menjadi –log
            Catalogue                                catalog
           
-logy, -logic menjadi –logi 
            Technology, technologie         teknologi

-oir(e) menjadi –oar
            Trottoir                                    trotoar
           
-or, -eur, menjadi –ur
            Director, directeur                   direktur

-or tetap –or
            Dictator                                   diktator

-ure, -uur menjadi –ur
            Structure, struktuur                 struktur



Penyerapan dari bahasa asing yang tidak menggunakan aksara Latin, seperti bahasa Arab, Rusia, dan Cina tentu harus ditransliterasi atau ditranskripsi dulu kedalam huruf Latin. Penyerapan dari bahasa – bahasa Nusantara haru disesuaikan dengan ejaan dan lafal bahasa Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar