Minggu, 29 Januari 2017

morfofonemik



MORFOFONEMIK
   Morfofonemik (disebut juga morfonologi) adalah  kajian yang mengenai terjadinya perubahan bunyi atau perubahan fonem sebagain akibat dari adanya proses morfologi, baik proses afiksasi, proses reduplikasi,maupun komposisi “ Chaer (Morfologi BahasaIndonesia 2008:43)
Ø  Jenis Perubahan
            Dalam bahasa Indonesia ada beberapa jenis perubahan fonem berkenaan dengan proses morfologi ini. Di antaranya  adalah proses:
-        Pemunculan fonem, yakni munculnya fonem (bunyi) dalam proses morfologi yang pada mulanya tidak ada. Misalnya, dalam proses pengimbuhan prefiks me- pada dasar baca akan memunculkan bunyi sengau [m] yang semula tidak ada.
Me+baca           membaca
-        Pelesapan fonem, yakni hilangnya fonem dalam suatu proses morfologi. Misalnya, dalam  proses pengimbuhan prefiks ber- pada dasar renang, maka bunyi [r]yang ada pada prefiks ber- dilesapkan. Juga dalam proses pengimbuhan “akhiran”- nda pada dasar anak, maka fonem /k/ pada dasar  itu dilesapkan. Contoh:
Ber+renang           berenang
anak+nda                 ananda
-        Peluruhan fonem yakni luluhnya sebuah fonem disenyawakan dengann fonem lain dalam suatu proses morfologi. Umpamanya dalam pengimbuhan prefiks me- pada dasar sikat, maka fonem /s/ pada kata sikat itu diluluhkan dan disenyawakan dengan fonem nasal /ny/ yang ada pada prefik me- itu. Contoh:
Me+sikat            menyikat
Pe+sikat              penyikat
-        Perubahan fonem yakni berubahnya sebuah fonem atau sebuah bunyi, sebagai akibat terjadinya proses morfologi. Umpamanya dalam imbuhan prefiks ber- pada dasar ajar teradi perbahan bunyi, dimana  fonem  /r/ berubah menjadi fonem /l/. Perhatikan!
Ber+ajar                   belajar
-        Pergesean fonem yaitu berubahnya posisi sebuah fonem dari satu suku kata ke dalam suku kata yang lainnya. Umpamanya, dalam pengimbuhan sufiks –i pada dasar lompat, terjadi pergeseran dimana fonem /t/ yang semula berada pada suku kata pat menjadi berada pada suku kata ti. Simaklah!
Lompat+i                lom.pa.ti
Ø Morfofonemik dalam Pembentukan Kata bahasa Indonesia
  Morfofonemik dalam pembentukan kata bahasa Indonesia terutama terjadi dalam proses afiksasi. Dalam proses reduplikasi dan komposisi hampir tidak ada. Dalam proses afiksasi pun terutama, hanya prefiksasi ber-, me-, pe-, per-, konfiksasi pe-an, per-an, dan sufiksasi –an.
v Prefiksasi ber-
Morfofonemik dalam proses pengimbuhan prefiks ber- berupa:
-        Pelepasan fonem /r/ pada prefiks ber- itu; b) Perubahan fonem /r/ pada prefiks ber- itu menjadi fonem c) Pengekalan fonem /r/ yang terdapat prefiks ber- itu
Ø  Pelepasan fonem /r/ pada prefiks ber- itu terjadi apabila bentuk dasar yang di imbuhi mulai dari fonem /r/ atau suku pertama bentuk dasarnya berbunyi [er], misalnya:
Ber+renang                 berenang
Ber+cermin                 bercermin
Ber+ternak                  berternak
Ber+kerja                    bekerja
Ø  Perubahan fonem /r/ pada prefiks ber- tetap /I/ terjadi bila bentuk dasarnya akan ajar tidak ada contoh lain.
ber+ajar                belajar
Ø  Pengekalan fonem /r/ pada prefik ber- tetap /r/ terjadi apabila bentuk dasarnya bukan yang ada pada a dan b di atas.
Ber+obat              berobat
Ber+korban                 berkorban
Ber+getah                    bergetah
Ber+lari              berlari
Ber+temu                 bertemu
v Prefiksasi me- (termasuk klofiks me-kan dan  me-i)
a)      Pengekalan fonem di sini artinya tidak ada fonem yang berubah tidak ada yang dilesapkan dan tidak ada yang ditambahkan.  Hal ini terjadi jika bentuk dasarnya diawali dengan konsonan /r, l, w, y , m, n, ng, ny/.
b)      Penambahan fonem, yakni
-          penambahan fonem nasal /m/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimuali dengan konsonan  /b/ dan /f/.
me- +baca     = membaca
me- + fitnah  = memfitnah
-          penambahan fonem nasal /n/ pabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsonan /d/
me-    +          dengar             = mendengar
me-    +          dapat   = mendapat
-          penambahan fonem nasal /ng/ terjadi apabila bentuk  dasarnya dimulai dengan konsonan /g, h, kh, a, i, u, e, dan o/
me-    +          goda                = menggoda
me-    +          khayal              = mengkhayal
me-    +          ekor                 = mengekor
-          penambahan fonem nasal /nge/ terjadi apabila bentuk dasarnya hanya terdiri dari satu suku kata.
me-    +          bom                 = mengebom
me-    +          lap                   = mengelap
c)      Peluluhan  fonem terjadi apabila prefiks me- diimbuhkan pada bentuk dasar yang dimulai dengan konsonan bersuara /s, k, p, dan t/. Dalam  hal ini konsonan /s/ diluluhkan dengan nasal /ny/, konsonan /k/ diluluhkan dengan nasal /ng/ konsonan /p/ diluluhkan dengan  nasal  /n/.


v  Pefiksasi pe-dan konfiksasi pe-an
Morfofonemik dalam proses pengimbuhan dengan prefiks pe-dan konfiks pe-an sama dengan morfofonemik yang terjadi dalam proses pengimbuhan dengan me-, yaitu (a) pengekalan fonem, (b) penambahan fonem,dan (c) peluluhan fonem.

Ø  Pengekalan fonem, artinya tidak ada perubahan fonem,dapat terjadi apabila bentuk dasarnya diawali dengan konsonan /r, l, y, m, n, ng, dan ny/. Contoh:
Pe + latih             pelatih
                                    pelatihan

Ø    Penambahan fonem,yakni penambahan fonem nasal /m, n, ng, dan nge/ antara prefiks dan bentuk dasar. Penambahan fonem nasal /m/ terjadi apabila bentuk dasarnya diawali oleh konsonan /b/. Contoh:
Pe + baca            pembaca
                                  Pembacaan
-        Penambahan fonem nasal /n/ terjadi apabila bentuk dasarnya diawali oleh konsonan /d/. Contoh:
Pe + dengar             pendengar
                                                               Pendengaran
-        Penambahan fonem nasal /ng/ terjadi apabila bentuk dasarnya diawali dengan konsonan /g, h, kh, a, l, u, e, dan o/. Contoh:
                                Pe+inap          penginap
                                                          Penginapan
-        Penambahan fonem nasal/nge/terjadi apabila bentuk dasarnya berupa bentuk dasar satu suku,contoh
Pe+pel             pengepel
                        Pengepelan
Ø  Peluluhan fonem ,apabila prefeiks pe- (atau pe-an) diimbuhkan pada bentuk dasar yang diawali dengan konsonan bersuara /s,k,p, dan t/,diluluhkan dengan nasal /ng/,konsonan /p/ diluluhkan dengan nasal /m/,dan konsonan/t/ diluluhkan dengan nasal /n/,contoh
Pe+kumpul          pengumpul
                            Pengumpulan
v Prefikasi per- dan konfikasi per-an
Morfonemik dalam pengimbuan prefiks per-dan konfiks per-an dapat berupa (a)pelepasan fonem /r/ pada perfis per- itu ; (b)perubahan fonem /r/ dari prefiks per-itu menjadi fonem /i/ dan  (c)pengekalan fonem /r/ tetap /r/.
-        Pelepasan fonem /r/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem /r/,atau suku pertamanya /er/ contoh:
Per+kerja            pekerja
Per+ternak        perternak
Per+ringan        peringan
-        Perubahan fonem /r/ menjadi /l/terjadi apabila bentuk dasarnya berupa kata ajar.
Per+ajar           pelajar
-        Pengekalan fonem /r/terjadi apabila bentuk dasarnya bukan yang disebutkan pada a dan b di atas .contoh:
Per +kecil           perkecil
Per+cepat           percepat
v  Sufiksasi –an
    Morfofonemik dalam pengimbuhan sufik-an dapat berupa  a)pemunculan fonem b)pergeseran fonem.
-        Pemunculan fonem ,ada tiga macam fonem yang dimunculkan dalam pengimbuhanini,yaitu fonem /w/ ,fonem /y/ dan fonem gloyal /?/ .pemunculan fonem/w/ dapat terjadi apabila sufiks-an itu diimbuhkan pada bentuk dasar yang berakhir dengan vokal /u/ contoh:
satu + an             satuan
pandu+an            panduan
-        Pergeseran fonemterjadi apabila sufiks-an itu diimbuhkan pada bentuk dasar yang berahkir  dengan sebuah konsonzn .dalam pergeseran ini,konsonan tersebut bergeser membentuk suku kata baru dengan sufiks-an tersebut ,contoh:
Jawab + an           jawaban
Kenang +an           kenangan
v Perfiks ter-
Morfofonemik dalam proses pengimbuhan dengan prefiks ter- dapat berupa {a}pelepasan fonem /r/ dari prefiks ter –itu ; (b)perubahan fonem /r/ dari perfiks ter –itu menjadi fonem /l/  ;dan (c).pengekalan fonem /r/ itu
-        Pelepasan fonem dapat terjadi apabila prefiks ter- itu diimbuhkan pada bentuk dasar yang dimulai dengan konsonan /r/ contoh:
Ter+raba           teraba
Ter +rebut          terebut
Ter+rasa          terasa
-        Perubahan fonem /r/ pada prefiks ter –menjadi fonem /l/ terjadi apabila prefiks  ter-itu diimbuhkan pada bentuk dasr anjur
Ter  + anjur            teranjur
-        Pengekalan fonem /r/ pada prefiks ter –tetap menjadi /r/ apabila prefiks ter- itu diimbuhkan pada bentuk dasar yang bukan disebutkan pada a dan  b diatas contoh:
Ter+kaya           terkaya
Ter+baik          terbaik
Ter+lempar           terlempar

Ø  Bentuk bernasal dan tak bernasal
Hadir dan tidaknya bunyi nasal tidak selamanya mengikuti kaidah morfofonemik seperti dibicarakan pada subbab 4.2.1 dan 4.2.2 hadir dan tidaknya bunyi nasal dalam pembentukan kata bahsa indonesia sangat erat berkaitan dengan tiga hal ,yaitu 1)tipe verba yang”menurunkan” bentuk kata itu; (2)upaya pembentukan kata sebagai istilah (3) upaya pemberian makna tertentu.
v  Kaitan dengan tipe verba
Dalam bahasa indonesia ada empat macam tipe verba dapam kaitanya dengan proses nasalisasi.keempat verba itu adalah a)verba berprefiks me-(termasuk verba me-kan ,dan me-i) ;b)verba berprefiks me- dengan pangkal per -, per-kan , dan per-l  c)verba berprefiks ber-; dan d)verba dasar (tanpa afiks apa pun ).
Kiadah penasalan untuk verba berprefiks me-(dengan nomina pe-dan nomina pe-an )yang dituturkannya adalah sebagai berikut.
afiks
nasal
Fonem awal bentuk dasar
Me-
Me-kan
Me-i
1.Æ
2.m
3.n
4,ny
5.ng
L,r,w,y,m,n,ny,ng
B,p,f
D,t
S,c,j
K,g,h,k
H,a,l,u,e,o

6. nge
Eka suku

Dari bagan tersebut dapat dilihat bahwa dalam proses pengimbuhan afiks me-, me-,kan ,dan me-i akan terjadi.
-        Nasal tidak akan  muncul bila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem /l,r,y,m,n,ny,atau ng/contoh
Meloncat,peloncat peloncatan
Merawat,perawat,perawatan
Mewarisi.pewaris ,pewarisan
Meminang,peminang,peminangan
Menanti,penanti,penantian
Menyanyi,penyanyi,penyanyian
Menganga ,penganga ,penganganan
-        Akan muncul nasal /m/ bila bentuk dasarnya mulai dengan fonem /b,p,f/contoh:
Membina,pembina,pembinaan
Memilih,pemilih,pemilihan
Memfitnah,pemfitnah,pemfitnahan

-        Akan muncul nasal /n/ bila bentuk dasarnya mulai dengan fonem /d, atau t/. Contoh:
        Mendengar, pendengar, pendengaran
         Mendapat, pendapat, pendapatan
-        Akan muncul nasal /ny/ bila bentuk dasarnya mulai denga fonem /s, c, dan j/. Contoh:
     Menyambut, penyambut, penyambutan
         Menyakiti, penyakit, penyakitan
-        Akan muncul nasal /ng/ bila bentuk dasarnya diawali dengan fonem /k, g, h, kh, a, i, u, e, atau o/. Contoh:
Mengirim, pengirim, pengiriman
         Menggali, penggali, penggalian
-        Akan muncul nasal /nge-/ apabila bentuk dasarnya berupa kata ekasuku. Misalnya:
      Mengetik, pengetik, pengetikan
         Mengelas, pengelas, pengelasan
Kaidah penasalan untuk verba berprefiks me- yang bentuk dasarnya berupa pangkal berafiks per-, per-kan, dan per-l (dengan nomina bentuk pe- dan pe-an yang diturunkannya) adalah sebagai berikut.
1)      Fonem /p/ sebagai fonem awal pada dasar yang berupa pangkal per-, per-kan, atau per-l tidak diluluhkan dengan nasal /m/ bila diimbuhi prefiks me-, karena fonem /p/ itu adalah sebagian dari prefiks ­pe- yang menjadi dasar pembentukan. Contoh: me + perpendek à memperpendek.
2)      Nomina pelaku yang diturunkan dari verba memper bersifat potensial, dan nomina hal/proses bersifat aktual menggunakan bentuk per-an.
Contoh: memperpendek à perpendekan.
3)      Nomina pelaku yang diturunkandari verba memper-kan dan memper-l adalah bentuk pemer-; ada yang aktual ada yang masih potensial.
Contoh: mempersatukan à pemersatu.
4)      Nomina hal/proses yang diturunkan dari verba memper-kan atau memper-l berbentuk pemer-an. Contoh: mempertahankan à pemertahanan.
Pembentukan nomina pelaku berprefiks pe- dan nomina hal yang berkonfiks per-an tidak memunculkan bunyi nasal kita. Contoh:
·         Bekerja à pekerja à pekerjaan
·         Bertani à petani à pertanian

v  Kaitan dengan upaya pembentukan istilah
Dalam peristilahan olahraga sudah ada istilah petinju (yang diturunkan dari verba bertinju) sebagai suatu profesi, yang berbeda dengan bentuk peninju (yang diturunkan dari verba meninju) yang bukan menyatakan profesi. Kemudian berdasarkan bentuk petinju dibuatlah istilah-istilah dalam bidang olahraga seperti petembak (bukan penembak), petenis (bukan penenis), peterjun (payung) (bukan penerjun payung), pegolf (bukan penggolf). Jika dilihat bentuk-bentuk tersebut sebenarnya menurut kaidah penasalan haruslah bernasal. Namun, sebagai istilah yang dibuat secara analogi tidak diberi nasal. 
v Kaitan dengan upaya semantik
Untuk memberi makna tertentu, bentuk yang seharusnya tidak bernasal diberi nasal. Umpamanya, bentuk mengkaji dalam arti ‘meneliti’ dibedakan dengan bentuk mengkaji yang berarti ‘membaca Alquran’. Contoh yang lain: penjabat à pejabat, penglepasan à pelepasan.
Sementara itu, tanpa perbedaan semantik, pasangan kata dengan peluluhan fonem awal bentuk dasar dan dengan yang tanpa pelluluhan lazim digunakan orang secara bersaingan.
Contoh: mensukseskan à menyukseskan, mengkombinasikan à mengombinasikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar